Header Ads

Ah, Mas by PHEI_13

“Hidup tak membutuhkan pelarian karena sebuah perasaan tertekan dan frustasi,  tapi hidup membutuhkan keberanian untuk mempertahankan kebenaran!” Ah, Mas.

Perkataanmu menggodam hatiku. Selalu. Ada binar dan harapan di  matamu. Seperti biasa, jemarimu kemudian meraih tengkukku. Dan mengusap kepalaku  lembut. Seolah ingin menyalurkan energimu padaku. Lalu, yang bisa ku berikan hanyalah  sesungging senyum.  “Gimana? Jadi pindah sekolah?” Ku gelengkan kepalaku dan tersenyum manja. Itu masa akhir 2 SMA. Setelah  beberapa minggu pertemuan denganmu. 

Dan setelah mati-matian engkau mencoba  menarik perhatianku. Hingga saat itu… aku curhat padamu.
Di bangku taman. Di bawah  pohon belimbing yang daunnya banyak berguguran.  Masih jelas membekas, pagi setelah sore penuh makna itu, ku langkahkan kakiku  penuh energi di koridor sekolah. Senyum senantiasa menghias wajahku. Berbeda dengan  hari sebelumnya, ketika Adek datang menceritakan gonjag-ganjing di OSIS yang mengancam  eksistensiku, ku tanggapi dengan tenang. Dan dengan penuh keberanian, ku katakan aku  sanggup memenuhi undangan debat terbuka yang dimotori pengurus OSIS yang hedonis  itu. Lucu, seketika wajah tegang Adek menjadi kaget keheranan. Saat ku yakinkan, dia pun  tersenyum dan menyemangatiku.  


Ah, Mas! Satu lagi yang tertular energimu.  Juga saat Dira mendatangiku dengan tergopoh dan mengabarkan betapa  murkanya Bu Andjar karena majalah sekolah tak naik cetak. Batas deadline sudah lewat  seminggu. Hari sebelumnya, aku mengeluh habis-habisan tentang kondisi siswa yang gak  idealis dan gak komit. Tidak bertanggungjawab terhadap tugasnya. Pura-pura melupakan  amanah dan dan sibuk dengan kewajiban masing-masing. Seperti mengurus pacar, shoping,  nongkrong, ngenet, ngeband, dll yang cuma nambah angka pelajar tawuran dan nggak  karuan  di negeri ini. Sempat ku teriakkan keras-keras di sudut bathinku, “Mau di bawa ke  mana negriku?!!!” Tapi saat itu tidak.

Sepulang sekolah ku ajak Dira ngelembur di sekret “Gelar”.  Bersama sang editor, kami rampungkan materi majalah. Hasilnya, tiga hari cukup dengan  tiga orang untuk menerbitkan sebuah majalah sekolah! Ah, Mas! Lagi-lagi perkataanmu punya andil besar! Ck… ck… ck… aku mengagumimu, Mas!
***
Tahun ketiga sekolah ku lewati dengan penuh energi. Ku optimalkan segala  kemampuanku. Hidupku menjadi penuh filosofi dan idealis. Bahkan, aku mulai mencita-citakan sebuah universitas yang ideal… Pertemuan tiap sore denganmu, mengisi energi baru  bagiku.  Ah, Mas! Tak pernah ku rencanakan untuk berada satu fakultas denganmu. Allah  jua yang putuskan. Dan kekagumanku padamu semakin menjadi-jadi. Saat engkau  memperkenalkan diri sebagai ketua BEM di hadapan kami, mahasiswa baru.

Jelas terlihat  sosokmu yang berwibawa, bijak, pejuang idealisme sekaligus intelektual! Sempat ku lirik  beberapa teman yang tak berkedip memperhatikanmu. Juga ku dengar tiga mahasiswa  menjadikan engkau sebagai topik perbincangan mereka di kamar mandi. Sembari sibuk  menghias diri, bersolek agar tampak cantik. Bahkan ada juga yang mulai mengorek segala  informasi tentangmu pada kakak tingkat. Mulai dari alamat rumah sampai nomor  handphone… Ah, Mas! Siapa yang tidak mengidolakan engkau… Aku mulai merasa takut  kehilangan. Sungguh! Hanya saja, pertemuan rutin kita di bangku taman di bawah pohon  belimbing itu selalu meyakinkan dan menenangkan diriku.

Tak ada yang berubah darimu.  Senyummu tetap ramah, perhatianmu tetap tercurah, dan yang terpenting… engkau tetap  sayang padaku. Sore itu benar milikku. Perbincangan kita yang selalu seru, mulai dari hal  pribadi, kuliah, organisasi, hingga masalah negeri ini. Dan tak lupa, juga tetang sastra! “Hidup tak membutuhkan pelarian karena sebuah perasaan tertekan dan frustasi,  tapi hidup membutuhkan keberanian untuk mempertahankan kebenaran!” Ah, Mas!

Hingga enam bulan kuliah tak ada yang tahu hubungan kita. Mungkin  karena kita selalu terlihat biasa. Bagiku tak masalah, selama engkau tak tergoda pada  perempuan-perempuan yang mencoba menarik perhatianmu. Selama enam bulan itu,  perbendaharaan kekagumanku bertambah. Ketika sebuah seminar nasional kau sukseskan  di bawah kepemimpinanmu. Seminar fenomenal dengan seribu peserta yang membahas  global warming dari tiga sudut pandag.

Kapitalis, sosialis dan islam. Aneh memang. Satu sisi  kau dicemooh karena membuatnya seolah pengajian, namun di sisi lain, dekanat memuji  kerja kerasmu. Semakin banyaklah pengagummu, sejak itu sekret BEM tak pernah sepi dari  mahasiswa yang bergairah dengan perubahan maupun yang sekedar ingin dekat denganmu.  Sejak itu, kau mulai sibuk menerima kunjungan dari BEM berbagai fakultas dan lintas  universitas. Ah, Mas! Tak ada cela bagimu. Akademikmu selalu memuaskan dan di luar itu kau  tetap mengesankan! Semua itu seolah mengukuhkan engkau sebagai lelaki sempurna tanpa  cela.

Saat itu aku berpikir, seharusnya semua mahasiswa sepeerti engkau. Idealis, bukannya  hedonis! Hingga beberapa minggu setelah itu… pihak-pihak yang tak menyukai  keberadaanmu mulai menunjukkan aksi nyata. Bukan dari luar mereka  berusaha menggerogotimu. Tapi dari dalam tubuh orang-orang yang kau  pimpin. Engkau mulai menyiapkan tenaga ekstra. Ketika peta  perpolitikan kampus mulai kacau, aku tahu engkau mulai limbung.  Ah, Mas! Binar di matamu tak seperti ratusan sore  sebelumnya. Beberapa daun belimbing yang berguguran dan  menguning seolah semakin mengukuhkan kemuramanmu. Tak sanggup  ku lakukan apapun selain menjadi pendengar setia bagimu. Ingin sekali  ku berikan energi seperti yang biasa kau lakukan padaku…. “Hidup tak membutuhkan pelarian karena sebuah perasaan  tertekan dan frustasi, tapi hidup membutuhkan keberanian  untuk mempertahankan kebenaran!” Lalu, tanganmu merangkulku…
***
Suasana semakin kacau. Mahasiswi-mahasiswi yang dulu  mengamatimu diam-diam kini mulai berani mendekatimu. Tapi sore kita  tak pernah kau lewatkan sia-sia. Meski tak ku lihat kau setegar dulu. Ah,  Mas! Aku mengerti. Kau tak lagi punya anak buah yang semangat,  idealis dan seenergik dulu. Perlahan-lahan mereka mulai terseret arus  dan berubah haluan menjadi hedonis… Memang sulit bertahan  sendirian. Tapi jika kita mau ada untuk melakukan perubahan, itulah  keberanian! Ayolah, Mas! Aku yakin kau bisa lakukan… Sebuah sore di bangku taman. Aku menunggumu hingga senja  gelisah ingin pulang. Dan ketika ia sampai di peraduan, telah ku  benamkan diriku pada sujud yang panjang. Ku titipkan namamu di sela-sela do'aku yang mulai mengepakkan sayapnya menuju 'Arsy… Ya.  Namamu, Mas! Ah, Mas! Pertama kalinya kau ingkari janji kita. Ku dengar  kabar dari seorang kawan, sore kemarin kau ada di jalanan.

Bersama  seniman-seniman kampus, bernyanyi, memetik gitar sambil tertawa  'menyakitkan'. Aku shock! Itu bukan kau yang ku kenal. Mas, itu bukan  pelarian…  Ku tahan emosiku hingga sore di bangku taman. Aku setia  menunggumu… selepas ashar, daun-daun belimbing tak lagi  berguguran. Hingga senja memerah marah… kau tak kunjung datang.  Suatu kali ku pergoki kau berjalan beriringan bersama seorang  gadis. Ia cantik, rambut hitamnya tergerai panjang. Aku mengenalnya  sebagai orang yang memang tergila-gila padamu. Aku sakit, Mas. Kali ini  kau menggodam hatiku bukan dengan palu kebajikan, tapi dengan pisau  tajam yang memiliki mata di segala sisi. Ku coba tenangkan hatiku  dengan berprasangka baik. Barangkali engkau memang cuma kebetulan  berjalan di sampingnya. Tapi semua itu runtuh setelah melewati tangga  menuju laboratorium.

Aku menguntitmu seolah aku adalah papparazi  yang takut kehilangan berita. Dan akhirnya, aku hanya bisa ternganga  saat kau menggendeng tangannya mesra!  Tetapi aku tetap menunggumu di sore berikutnya. Meski  engkau kini adalah pribadi yang berbeda. Engkau datang. Tapi seluruh  perkataanmu membuatku muak, Mas! Bisa-bisanya engkau bicara  kebenaran sementara engkau tak lagi bertahan di jalur yang benar!  Sesak telingaku dengan selentingan tak sedap tentangmu. Oh, maaf  Mas. Itu bukan selentingan, tapi kenyataan… bayangkan, betapa parah  dirimu sekarang. Bukan hanya aku yang merasakan, tapi mereka yang  dulu mengagumimu juga menyesal… Tak puas dengan semua itu, engkau mengubah penampilan.  Mulai dari rambut gondrong hingga Mohawk.

Celana cingkrang, jadi  komprang. Dan lain-lain yang membuatku ingin pingsan. Akademikmu  pun mulai tak karuan. Kau habis-habisan. Tapi Mas, engkau belum jua  sadar. Engkau bukan lagi sosok bijak berkharisma yang diidolakan  hampir seluruh mahasiswa di fakultas ini. Ah, Mas! “Hidup tidak membutuhkan pelarian karena sebuah perasaan  tertekan dan frustasi. Tapi hidup membutuhkan keberanian  untuk mempertahankan kebenaran.” Kemudian, aku melihatmu merokok. Setelah pergaulan yang  kelewatan dengan para perempuan, engkau mulai menghisap batangan  penuh nikotin yang dulu tak kau suka. Ah, Mas! Bangku taman itu merindukan celoteh kita. Aku pun  kangen… meski kini, aku hanya bisa melihatmu dengan nanar.

Mas, apa  kau lupa, perjuanganmu meluluhkan hatiku? Saat pertama kali kau  memperkenalkan dirimu sebagai Setyo Adi tiga tahun lalu. Orang  baru dalam hidupku. Begitu enggan aku memanggilmu 'mas'.  Hingga ketika kau mendapat sebutan itu, tanda bahwa aku  menghormatimu. Lebih dari itu, ia adalah panggilan sayang… Usai kuliah pagi. Aku melihatmu terbahak-bahak.  Duduk bergerombol di teras fakultas bersama 'saudara-saudara'  barumu.  Ah, Mas!
***
Bau obat menusuk hidungku. Ku gandeng tangan  perempuan renta yang berjalan di sampingku. Seharusnya, ia  bahagia setelah berhari-hari dirawat di rumah sakit ini karena  infeksi lambung akut. Ibu, hanya karna anak lelakimu tak datang  menjemputmu, engkau muram. Seberapa sayang engkau  padanya? Barangkali engkau kangen…  Sedikit sambutan hangat di rumah. Bulek Sri dan si kecil  Ramzi menyunggingkan  senyum bahagia saat kami memasuki  ruang tamu. Ibu memeluk mereka. Sesaat kemudian ia membawa  langkahnya menuju sebuah kamar di tepi tangga yang menuju  kamarku. Serta merta dibukanya pintu kamar itu.  “Mana Setyo?” tanyanya menahan kecewa.  Aku menggeleng. Tak sanggup membuat beliau lebih  kecewa lagi.  Sedang mendaki rinjani bersama gadis cantik yang kini  menjadi pacarnya… bathinku.

Tenggorokanku tercekat.  Ku alihkan pandanganku ke luar jendela ruang tengah.  Bangku taman di bawah pohon belimbing itu lengang. Ah, Mas!  Rumah ini merindukanmu. Andai kau tahu, sakit ibu karena  memikirkan engkau. Perubahanmu membuat beliau shock dan  tak peduli pola makan.  Ah, Mas! Dulu, kedatanganmu menghebohkan keluarga  kami. Engkau memperkenalkan diri sebagai putra ibu yang  dibawa ayah pergi setelah bercerai lima belas tahun lalu. Ketika  ayah, lelaki yang sama sekali tak ku ingat wajahnya meninggal,  engkau mencari kami atas wasiatnya. Sulit bagiku menerimamu.  Meski kemudian aku mengagumimu dan ibu bangga padamu.  Ah, Mas! Aku rindu engkau yang dulu. Andaikan  sekali….saja, engkau datang dan duduk di bangku taman itu… biar  kali ini aku yang salurkan energiku padamu.

Saat engkau tak lagi  menjadi satu kekaguman, tak dapat memberi energi padaku, aku  mencari. Mencari energi lain yang tak labil sepertimu. Akhirnya  aku menemukannya. Sebuah kebenaran hakiki yang takkan  membuatmu linglung! Kini, aku tak lagi ingin menjadi pendengar  setiamu. Aku bisa! Kini aku bisa, Mas! “Hidup tak membutuhkan pelarian karena sebuah  perasaan tertekan dan frustasi, tapi hidup  membutuhkan keberanian untuk mempertahankan  kebenaran!” Ah, Mas! Ingin sekali kutularkan… mabda' islam yang  kini membakar jiwaku. Ah, Mas! Kembalilah!  
***

Untuk setiap jiwa yang berdiri di atas kebenaran Islam, teruslah  tegak. Untuk setiap kaki yang berlari menuju kemenangan Islam,  teruslah bergerak. Berdirilah dan berlarilah dengan penuh keikhlasan. Perjuangan ini  bukan demi eksistensi diri, bukan obsesi agar nama tercatat  dalam sejarah. Tapi tuntutan aqidah… paggilan bagi orang  beriman! 
Diberdayakan oleh Blogger.