Header Ads

HUKUM MEROKOK

Tadz, apa sih huklumnya merokok? teman-teman sekolah saya banyak yang merokok. orang tua sya juga perokok tapi saya tidak boleh meroko ( m irfan rianto di jatinegara

Perdebatan mengenai hukum  merokok sudah sejak lama terjadi. Ada  yang menganggapnya MUBAH, karenanya  merokok atau tidak merokok tidak ada  masalah atau karena merujuk pada qaidah  “Pada dasarnya setiap benda itu mubah  sebelum ada dalil yang  mengharamkannya”.

Tetapi banyak yang  mengatakan MAKRUH, kalau merokok  tidak apa-apa, tetapi kalau tidak merokok  mendapat pahala, alasannya orang  merokok kebanyakan kesehatannya sering  terganggu dan dari mulutnya keluar bau  (asap/ tembakau).

Tapi, maaf ada yang  berani mengatakan bahwa merokok itu  hukumnya SUNAH, artinya kalau merokok  mendapat pahala. Alasannya, ketika  seseorang mengalami pikiran buntu tidak  punya semangat bahkan ketika sedang  sumpek ROKOK itu menjadi obat semangat  dan pikiran jadi cemerlang. Bahkan ada  yang dengan tegas menyatakan bahwa  merokok itu hukumnya HARAM, alasannya  berapa banyak orang merokok yang  akhirnya divonis sakit akibat rokok,  sebagaimana slogan dalam bungkus rokok

  “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER,  SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN  GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”.
   
Mereka menggunakan dalil “Artinya : Dan  janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri  ke dalam kebinasaan” [Al-Baqarah : 195] Lantas bagaimana hukum rokok yang  sesungguhnya? Merokok adalah aktifitas  fisik manusia, maka merokok terkena  hukum perbuatan (af'al), terdapat qaidah  ushul yang mengatakan “Pada dasarnya  setiap perbuatan manusia terikat dengan  hukum syara”. Artinya tidak ada satu  perbuatanpun yang tidak ada hukumnya.  Kami memandang hukum merokok  berbeda-beda sangat tergantung individu-individunya serta efek yang menyertainya,  berikut penjelasannya:

1.       Haram apabila ghalabatu dzan  (dugaan kuat) menimbulkan bahaya  pada dirinya atau berdasarkan  petunjuk dari ahli bahwa merokok  dapat merusak kesehatannya, karena  ia sedang dalam kondisi yang  mengharuskannya tidak merokok. Menjadi  haram juga apabila ia merokok ditempat  umum yang akan mengganggu dan  membahayakan orang lain.
 2.       Makruh apabila menimbulkan bau tak  sedap, sebagaimana halnya mengkonsumsi  bawang merah atau bawang putih yang  menyebabkan orang lain tidak nyaman  dengan aroma tersebut.
3.       Mubah apabila ghalabatu dzan ia akan  aman  dan ia melakukannya di tempat  khusus yang tidak mengganggu atau  membahayakan orang lain. Meskipun demikian kami menyarankan  agar kita semua meninggalkan aktifitas merokok,  karena itu perbuatan sia-sia. Sebagaimana sabda  Rasulullah SAW.

“Diantara kebaikan seorang  muslim adalah ia meninggalkan sesuatu yang  tidak berguna”(Hadits Hasan, riwayat  At-Tirmidzi  dari abu Hurairah) Lalu bagaimana dengan fatwa MUI yang  mengharamkan rokok?


Sesungguhnya fatwa itu  bukan hukum syara' dan tidak mengikat, seperti  haramnya golput dan subsidi BBM buat orang  kaya. Berbeda dengan ijtihad, sauatu saat hasil  ijtihad seoarang mujtahid akan menjadi hukum  syara' dan bersifat mengikat apabila hasil ijtihad  tersebut diadopsi oleh negara(khilafah). Bisa jadi  ketika khilafah tegak kemudian Khalifah  mentabanni (mengadopsi) satu hukum bahwa  warga negaranya tidak boleh merokok maka  seluruh warga negaranya wajib menaatinya.  Wallahu A'lam [ 
Diberdayakan oleh Blogger.