Header Ads

Kembang Kembang Gula

Aroma manis kembang gula buatan ibuku  sejenak melintas dalam benak. H-5.  Ramadhan sedang memasuki sesi  A terakhir. Hari ini, ibu pasti  membuat kembang gula. Sama  seperti tahun lalu atau tahun-tahun saat aku masih menjadi  gadis mungil dengan rambut  keriting menggantung yang  dikuncir kuda. Aku terhenyak.  Saat suara gedebum pintu  tertutup mengangetkanku.  Rupanya Sasmitha Kapoor.  Teman Indiaku ini sedang  menenteng dua buah tas  belanjaan.

Hari ini  jadwalnya memasak. Sassy. Begitu aku  memanggilanya. Adalah  seorang gadis Punjab berkulit  sawo yang kematangan. Tapi  menurutku ia sangat manis.  Rambutnya hitam legam, lurus dan lebat.  Indah. Dua bulan lalu ia hijrah dalam Islam. Tahun  ini adalah Ramadhan pertana baginya. “ Hhh…” Ia mendesah kalem. Lalu meneruskan kalimatnya  yang terpotong oleh lelah. “ Oh mysweety buddy. Woul you help me?” Ia memandang  ke arahku. Pertanda pertanyaan diluncurka kepadaku. “ Absolutely! With my pleasure..” Jawabku singkat. Aku  memaklumi Sassy. Kucoba membuat Ramadhan  perdananya indah. Sehingga ia semakin merasakan  nikmatnya Islam.   

*****
 Dalam benakku,masih ada kembang gula. Dalam  ingatanku,terlintas baying-bayang ibu. Aku masih ada  dalam lamunan ketika berbuka. Sassy menatapku heran. “ Are you alright?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk dan  meneruskan acara makanku. Kulihat Suzzane melintas di depan kami. Karibku  tampak bersedih. Matanya sembab. Tak biasanya ia baru  pulang jam segini. “ Got ya tucker?” Tanyaku. Ia tak merespon. Hanya  meneruskan langkahnya. Apartement A.23.Ruang sederhana tempat kami  berteduh ini dihuni oleh tiga orang mahasiswi malang dari  Negara dan suku yang berbeda. Diantara kami tak ada  yang berdarah biru. Aku, Sassy dan  Suzzanne dapat  menuntut ilmu di negri Kangoroo karena beasiswa. Hati  kami seolah jadi satu. Walau Suzzanne bukanlah muslim.  

Tapi salah satu kepingan hatiku dibawa olehnya. Selepas shalat maghrib,aku dan Sassy menuju  kamar dimana Suzzanne tersedu dalam kesedihan yang  belum kami ketahui. “ Ada apa?” Tanyaku dengan English yang cukup lancer.  Suzzanne menggeleng. Lalu kami memeliknya erat. Kubiarkan Suzzanne meneruskan tangisnya.  Sassy mengambilkan segelas air putih untuknya.Gadis  bermata biru, berkulit putih ini mulai  tenang setelah meneguk air putih ala  Sassy  yang kuketahui sebelum  diberikannya pada Suzzanne ia  berkomat-kamit lalu  meniupkannya ke air. Kupasang telingaku  lebar. Agar setiap kata yang  meluncur dari dari lidah  mybuddy ini tak  terlewatkan olehku. Sassy  meneteskan air  mata  mendengar cerita  Suzzanne. Dan disusul  olehku. Ia benar-benar  menghadapi masalah yang  pelik.
 *****
Mata kuliah Mr.Kennedy  usai. Aku berencana lembur di  tempat kerjaku nanti. Menjadi kasir di  Tiz Taz Pizza. Sebelum bergegas ke Tiz  Taz,kesempatkan diriku menuju ke bilik ATM di  depan kampus. Sekadar mengecek saldo dan mengambil  beberapa dollar untuk Suzzanne. Dollarku menipis. Honor  menjadi wartawan freelance di sebuah media telah kukirim ke  rumah minggu lalu. Hhhh…aku tak yakin bisa pulang ke rumah dua  bulan lagi. Setelah menamatkan pendidikan Strata satuku.
Kamar sederhana berukuran 4x3 meter tempat kami  membuat forum yang juga sederhana. Forum ini bukan intuk  mendiskusikan mata kuliah Mr. Smith atau Mr.Kennedy yang cukup  rumit. Tapi untuk memecahkan masalah Suzzanne yang lebih sulit. “ Seharusnya kalian tidak melakukan ini…Ini kerja keras kalia. Tak  sepantasnya aku..” Kalimat Suzzanne terputus oleh air mata.Ia tak  menyentuh beberapa lembar dollar dariku dan Sassy. “ Kerja keras kami adalah membuatmu tersenyum, Suzz..”Jawab  Sassy kalem. Ia sangat keibuan. Kami kembali berpelukan.

Menumpahakan tangis dalam  hangatnya persahabatan. Sejenak, apartement A.23 berharu biru.  Sampai akhirnya ponsel bututku bertulat-tulit ria. Satu panggilan  masuk. Dari orang rumah. Dan kuangkat. “ Assalamualaikum..” Suara ibu sayup-sayup dari Indonesia. “ Waalaikumsalam, Ibu. Bagaimana kabar ibu? Wahh,kangen deh  sama semuanya. Jadi pengen cepet pulang..”Jawabku panjang.  Rinduku pada orang rumah meluap-luap. Melihat kegembiraanku,kedua sahabatku heran.” My  mother..” Ucapku singkat tanpa ditanya.

Wajah mereka yang penuh  tanda tanya mewakili semua. Lalu kami tersenyum. Perbincangan dengan ibu terus berlanjut. Karib-karibku  sesekali tersenyum. Mungkin mereka merasa lucu mendengar  bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa khas daerahku.  Walau tak ada satu kata pun yang mereka ketahui. “ Bu, Dinda kangen nih sama kembang gulanya Ibu. Paketin,dong!!”  Rajukku penuh canda. Ibu hanya menjawab dengan tawa. “ Din,ibu juga kangen sama kamu,pengen meluk kamu.Sekali-kali  ajakin ibu kesana dong! Ibu kan juga pengen ketemu kamu, pengen tahu gimana bentuknya Kang Guru  juga. Mirip nggak sama kamu…” Aku  hanya terbahak mendengar suara  ibu. Sebenarnya aku juga ingin  pulang. “..emang mirip,Bu lucunya.  Bu, Dinda minta do'anya  ya..biar berhasil didini. Bisa  pulang dengan membawa  kebanggaan..” “ Iya,Sayang. Ibu selalu  berdoa untukmu..” Ibu terus bercerita.  Sesekali juga mewejangiku.  Tanpa sadar,butiran bening  jatuh dari pelupuk mataku.  Ibu, Adinda kangen Ibu,juga  semuanyaa…
*****  
Tanpa terasa,dua bulan  berlalu. Lebaranku juga sama seperti tahun  lalu semenjak tahun pertama menginjakkan kaki di  Australia. Tanpa baju baru. Hanya Sassy yang mempunyai  sesuatu baru. Agama dan suasana hatinya. Kupatutkan penampilanku di depan cermin. Andai  ibu disampingku,pasti sangat bangga melihatku dengan  busana siap diwisuda. Aku berbalik dan menemukan sosok  Sassy. Airmataku hampir tumpah. Sassy menyembunyikan  rambutnya yang indah dibalik jilbab.

Disunggingkannya  sebuah senyum untukku. Sesampainya di kampus, kulihat senyum Mr.  Kennedy diberiklan pada kami bertiga.. Kami  membalasnya  dengan senyuman. Nilai terbaik sering kami dapat di mata  kuliahnya. Aku,Sassy dan Suzzanne. Kami bertiga.  Mahasiswi malang berbeda negara, suku dan agama.  Mahasiswi malang yang berteduh di apartemen A.23. Lulus  denga nilai yang memuaskan. Topi wisuda kami layangkan  ke udara. Lalu tersenyum dan saling berpelukan.
*****
Kubantu Sassy mengepak barang. Hari ini ia kan  kembali ke Punjab. Dengan agama barunya. Sedangkan  keluarganya masih memuja Wishnu dan Krishna. Kuharap  dalam perjalanan hingga sampai tujuan ia baik-baik saja. Suzzanne menghapus air mataku.
Tiga hari lagi  ia juga kembali ke negri tercintanya. Bertemu dengan  ayahnya yang katanya baru sembuh dari sakit. Sedangkan  aku? Aku tak tahu kapan akan pulang. Dollarku belum  cukup untuk membeli tiket pesawat armada terbang  manapun. Kulambaikan tanganku pada Sassy. Keberharap  akan bertemu dengan semuanya suatu saat nanti. Entah  kapan.
 *****
 Satu minggu sudah Sassy tak ada. Dan tiga hari  berlalu setelah Suzzanne juga berlalu. Apartemen A.23.  Hanya dihuni oleh seorang sarjan malang,kesepian dan  tak berdollar. Aku termenung di sudut kamarku. Hingga  bel pintu berbunyi. Ada tamu. Sebuah paket dari Indonesia. Hal itu keketahui dari  seorang postman tua yang baru saja memencet bel  apartemenku. Mendung di wajahku hilang. Kubuka paket  perlahan sambil tersenyum. Sekotak kembang gula  penuh warna. Perasaanku gado-gado. Campur aduk.  Senang,terkejut dan haru biru  meliputiku.

Oh ibu..Kulihat  sepucuk surat didalamnya.  Kubaca dalam hati. “ Dari  Ibu buat Adinda sayang..”  Aku lebih terkejut saat  kutengok tanggal  pembuatan surat. H-5. Saat  Ibu menelponku. Saat aku  merajuk  kangen dengan  kembang-kembang gula ala  ibuku. Ponselku kembali  berdering. Telpon dari  Indonesia. Kuangkat penuh  gembira. “ Waalaikumsalam..”Segera kujawab  salam walau kutahu suara di seberang sana  belum berucap sepatah katapun. “ Wahh, Ibu baik banget,sih! Beneran maketin kembang gula.  Kembang gulanya baru nyampek. Tapi masih enak kok!” Tuturku  panjang lebar.

Namaun,suara dari Indonesia masih belum  terdengar. “ Haloo..” Sapaku. “ Ibu..Halo,denger suara Dinda kan?” Ulangku. “Mbak, ini Hilda..” “ Iya, Da. Ibu  mana? Ini kembang gulanya udah nyampek..” Dalam hatiku penuh kekhawatiran. Tapi segera kuhapus  dengan berprasangka baik terhadap  kehendak Tuhan. “ ..Mbak..Ibu..” Suara adik teruaku mengambang.” ..Ibu  pergi,Mbak..” Lanjutnya. “ Kemana, Da? Masa' nyusul mbak kesini? Jangan bercanda kamu..” Hatiku berdegup tak karuan, Aku hanya terus  berprasangka baik pada Allah. Juga terus menenangkan hati yang  semakin tak karuan. Suara Hilda bergetar. Ia tersedu dalam  kediaman. TAngan,kaki dan Lututku gemetar. Tapi kucoba agar tetap  tegar. “ ..Ibu meninggal, Mba..Kemarin,pas habis shalat isya'.. Prang!! Ponsel bututku dan kembang-kembang gula yang sedari tadi  berada dalam genggam tangan kanan dan kiriku jatuh berantakan.  Sama seperti hatiku. Tak lama,aku tak lagi sanggup menopang  tubuhku, dan jatuh bersama airmata, harapan dan rasa ingin untuk  pulang. Tiba-tiba semua menjadi gelap… []

 Kediri,1 Oktober 2009 Terkhusus untuk orang-orang yang menyemaikan kembang-kembang  cinta di pekarangan hatiku. Terimakasih banyak…  

Keterangan: “ Got ya tucker? “ = Bahasa slangnya Aussy,artinya “ Mau makan ?”  
Diberdayakan oleh Blogger.