Header Ads

Ngaca Dari Tragedi Intan

Mengira segerombol putih-abuers  di pinggir jalan Benyamin Sueb,  Kemayoran, Jakarta Pusat, itu,  kawannya, Intan melambai. Tak dinyana, ia  malah dicelurit pahanya oleh seorang dari  mereka. Intan (16), siswi sekolah menengah  kejuruan yang tengah dibonceng motor  sahabatnya, berdarah-darah. Ia tewas  akhirnya di rumah sakit. Peristiwa yang  terjadi pada 2 November lalu itu, mewakili  brutalitas remaja yang cenderung kian  edan-edanan.  Kenapa begitu? Gara-gara budaya junkfood!  Memang perlu dibuktikan secara empiris  kesimpulan ini.

Tapi, mengacu pada  penelitian di luar sono, memang ada  kausalitas antara brutalitas remaja dan  kebiasaan makan ''makanan sampah Barat''  yang disebut fastfood.   Times of India edisi 26 Agustus  2011 memaparkan penelitian terhadap  1.600 orang remaja usia 14 tahun oleh  Telethon Institut for Child Health Research  (TICHR) di Subiaco,Perth, Australia. Hasil  penelitian yang dipimpin DR Wendy Oddy  mengatakan, pola makanan ala Barat  (hamburger, kentang goreng, kue pie, sosis,  daging merah, gandum olahan, makanan  olahan dari susu lemaktinggi dan beraneka  saus), membuat seseorang cendrung  bersikap menarik diri, mudah gelisah,  agresif, dan jahat. Nah lo!

Riset dari 50 negara selama kurun  50 tahun terakhir yang dipublikasikan jurnal  kesehatan The Lancet, menunjukkan,  kematian pada usia remaja lebih melaju  dibanding anak-anak.  "Gaya hidup modern lebih  meracuni remaja dan orang muda.  Kecelakaan lalu lintas terus meningkat,  demikian pula kekerasan dan bunuh diri.  Anggapan bahwa masa muda merupakan  masa paling sehat dari hidup kita tidak lagi  benar adanya," kata penulis riset Dr Russell  Viner dari University College London  Inggris. Food, salah satu saja dari Fs-West  Culture (food, fun, fashion, film). Budaya ini  dikemas rapi dalam novel atau film remaja  yang bergenre teenlit. Inilah mazhab  budaya yang pernah ditelanjangi dalam  Debat Sastra di Universitas  Nasional, sebagai penyebar virus  liberalisme remaja (berciuman dengan  lawan jenis, membicarakan seks, pesta-pesta).

Survey yang dilakukan Komisi  Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4500  remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia  belum lama ini, menyatakan bahwa 62,7%  remaja Indonesia pernah ML (Making Love)  pranikah alias berzina. Data ini diungkapkan  Menkominfo Tifatul  Sembiring dalam  seminar bertajuk, "Sinergi Pemerintah dan  Industri Perfilman Nasional dalam  Membentuk Masyarakat Madani", yang  diselenggarakan FISIP UNPAD, di Bandung,  Minggu (9/5/2010). "Saya sangat prihatin membaca  hasil survey terakhir oleh Komisi  Perlindungan Anak yang mengungkapkan  bahwa 97 persen remaja pernah menonton  atau  mengakses pornografi, dan 93 persen  pernah berciuman, sedangkan 62,7 persen  pernah berhubungan badan serta 21  persen remaja telah melakukan aborsi,"  papar Tifatul.

Survey juga menunjukkan, 97  persen remaja pernah mengakses  pornografi, 21 persen pernah aborsi, dan  93 persen pernah berciuman. Sebelumnya,  survey yang dilakukan BKKBN tahun 2008  juga menyebut 63 persen remaja di  beberapa kota besar di Indonesia telah  melakukan seks pranikah.  Inilah sukses besar kapitalisme,  melalui ekspansi budaya liberalisme-permisivisme  yang massif melalui berbagai  piranti modern. Penulis asal Kenya, Ngugi  Wa Thiong'o, menyebut bahwa perilaku  dunia Barat, khususnya Amerika, ibarat  bom budaya yang sedang dilemparkan  Barat itu, menurut Radhakrishnan  dalam bukunya Eastern Religion and  Western Though (1924), dimulai setelah  runtuhnya Khilfah Islamiyah yangberpusat  di Turki.  “Untuk pertama kalinya dalam  sejarah umat manusia… Timur dan Barat  telah menyatu….'' tulis Radhakrishnan.
Survey oleh Service Medical du  Rectorat de Toulouse pada 33.943  responden di 24 negara di Amerika Utara  dan Eropa menunjukkan, remaja sudah  mulai nge-seks sejak usia 15 tahun.  Hasil penelitian DR Janet Hyde dan  kawan-kawan dari University of Wisconsin  AS yang dipublikasikan dalam Journal of  Youth and Adolescence 2007, menyebutkan  hasil serupa. Dari sample penelitian 273  remaja berusia 13-15 tahun, sebanyak 15  persen dari mereka telah melakukan  hubungan seks dini. Menurut Hyde, penyebabnya adalah  terlalu banyak menonton televisi,  rendahnya penghargaan terhadap diri  sendiri, tingginya tingkat kekecewaan dan  buruknya hubungan keluarga.


D'Riser, gencarnya media nasional  yang mengkampanyekan pola hidup remaja  Barat semakin menghanyutkan remaja  muslim dalam kehidupan serba boleh dan  bebas ala barat. Junk food, seks bebas, tren  fashion, musisi idola, hingga film box office  seolah menjadi simbol remaja gaul bin  trendy. Padahal dibalik semua itu, bahaya  besar seperti diurai dalam fakta-fakta di  atas mengancam remaja. Mulai dari krisis  mental, split personality, kriminalitas,  gangguan kesehatan, hingga masa depan  yang amburadul dunia akhirat. Masih ngiri  dengan kehidupan bebas ala barat? dah  basi kaleee!![ 
Diberdayakan oleh Blogger.