Header Ads

ROMAN HATIN EPS. 4

Saat matahari sudah datang, gelap  terusirlah. Ketika ilmu tiba,  Skebodohan lenyap. Apabila  kebenaran sudah sampai, kesalahan tak  mungkin bertahan lagi. Aku bersumpah  akan mencari kebenaran dan hidup di  atasnya. Aku pacu kudaku, berlari  menembus hawa yang dingin. Pedang  tersemat di pinggangku. Mantel salib  merahku masih membalut tubuhku,  berkibar-kibar dilalui angin. Kurapatkan  dia, berlindung dari dingin.

Aku terus pacu  kudaku, tak peduli malam mencekam. Aku  akan ke Acre, akan aku cari Saladin. Aku  ingin bicara dengannya! Aku ingin  menemukan jawaban dari semua  kegalauanku.! Beberapa hari kemudian derap  langkah berdebu kudaku mendekati Acre.  Dari atas sisi bukit aku melihat kemah2  orang Saracen. Ada ribuan pasukan Saladin  sedang beristirahat.


Aku tunggu sampai  malam menjelang, di pinggir hutan dekat  sana. Aku bersandar pada sebuah pohon  besar dan terlena dalam keteduhannya.  Kelelahan benar2 menggerayangi tubuhku.  Saat aku bangun, malam telah gelap.  Namun bulan purnama begitu elok di  angkasa, sehingga mataku tidak terlalu  sesat. Kutunggangi kudaku, dia berjalan  perlahan menuruni bukit mendekati  perkemahan Saracen. Seorang prajurit  melihatku. Dia memberitahu temannya  dan menyiagakan diri mereka  menghadapiku. Mereka mencabut pedang  mereka. Salah seorang dari mereka  berteriak memanggil beberapa orang  teman mereka yang lain.

Kusadari sebuah  keanehan, perkemahan itu terlalu sepi  untuk sebuah perkemahan ribuan pasukan  yang akan berperang dalam beberapa hari  ke depan. Kemana semua orang? Apakah  mereka tidak takut akan serangan  mendadak dari musuh atas kemah  mereka? Yang kulihat sedang berjaga  hanyalah beberapa orang prajurit saja,  yang tersebar di beberapa titik di kemah  itu. Kudaku terus melangkah perlahan  mendekati kemah itu. Beberapa orang  prajurit berlari mendekatiku dan  mengepungku sambil menghunus pedang  dan tombak. Mereka menodongku. Aku  tidak heran mengapa mereka bersikap  seperti itu, sebab mereka melihat mantel  salib merahku yang sangat mencolok.  

Dengan tenang aku mengangkat tangan  tanda menyerah. “Aku tidak bermaksud jahat!”,  kataku pada mereka. Kupaksa diriku  setenang mungkin. “Aku ingin bertemu  dengan Saladin. Aku ingin bicara  dengannya!”. Mereka tetap tidak mengurangi  kewaspadaan dan tetap mengacungkan  senjata mereka kepadaku. Salah seorang  dari mereka berbisik kepada temannya. “Orang kafir selalu berdusta.”. “Aku sudah perintahkan yang lain menyisir  daerah ini. Mungkin dia membawa  teman.”, kata yang lain. “Aku tidak bermaksud jahat!!”, aku  mengulangi. “Aku bukan mata2 atau  apapun. Aku juga bukan utusan siapapun.  Aku datang ke sini atas kemauanku  sendiri.”.

Kulemparkan pedangku dan jatuh  berdentang di hadapan mereka. Tanganku  tetap kuangkat ke udara dan aku turun dari  kudaku. “Sekarang aku tidak bersenjata!”,  kataku meyakinkan mereka. Apa yang aku  lakukan ternyata tidak membuat orang2  Saracen itu melonggarkan  kewaspadaannya. Kagum aku dengan  ketaatan Prajurit Saracen itu kepada  pemimpin mereka. Sering aku lihat Tentara  Kristus lari dari medan perang karena  ketakutan. Sementara sering pula kulihat  jumlah Pasukan Saracen jauh lebih sedikit  daripada Pasukan Kristus, namun mereka  tetap sabar dan maju berperang dengan  gagah berani seperti singa terluka. Seorang prajurit menyergapku dan  mengikat tanganku ke belakang, dia  langsung mengawalku menuju sebuah  kurungan kayu beroda. “Bawa aku pada Saladin. Aku  mohon!! Aku hanya ingin bicara  dengannya.”, aku memberontak, namun  mereka mengunci tanganku sehingga aku  tak bisa bergerak. Todongan senjata  mereka tak mereka turunkan. “Pengkhianat seperti kau tak akan pernah  bertemu Sultan.”, kata salah seorang  prajurit. “Orang kafir tak bisa dipercaya.”. “Bawa aku pada Saladin.”, aku meronta-ronta dan berteriak-teriak.

“Mana  Saladin!”.
“Diam kau!!”, hardik mereka. Mereka  mengeratkan kuncian pada bahu dan  tanganku, sehingga aku sama sekali tidak  bisa bergerak. Mereka juga membekap  mulutku dengan kain. Mereka  memasukkan aku ke dalam kurungan kayu  itu. Beberapa orang dari mereka  berdatangan karena teriakanku menarik  perhatian mereka. Aku melihat salah  seorang dari mereka sepertinya tak asing.  Ternyata Pria itu adalah pemuda pemimpin  rombongan Saracen yang pernah kutolong  dahulu.

Dia tersenyum padaku dan  langsung mengenali aku. “Cepat keluarkan dia.”, perintahnya. “Dia  tidak berniat jahat. Akulah yang  menjaminnya”. “Tapi Komandan, dia orang kafir!”, Prajurit  Saracen itu mempertanyakan perintah Pria  yang kutahu adalah pemimpin rombongan  Saracen, yang rombongannya dibantai  Prajurit Kristus dulu, yang ternyata adalah  seorang komandan pasukan Saracen. “Sudah kubilang, akulah jaminan laki2 itu.”,  katanya. “Aku yang akan mengawasinya  dengan ketat. Sekarang keluarkan dia!”. Merasa tak berguna untuk  berdebat, Prajurit itu mengeluarkan aku  dari kurungan. Membuka bekapan kain di  mulutku dan ikatan tanganku. “Terima kasih!”, kataku. Kugosok-gosok  tanganku sebab nyeri. “Ternyata kau  seorang Komandan”. “Aku juga berterima kasih kepadamu,  karena sudah menolongku dulu.”, sahut  Pria itu. “Kita belum saling berkenalan,  namaku Ahmad.”. “Namaku Phillipe. Aku dari Prancis”. “Sungguh Allah Maha kuasa!”, kata Ahmad.  “Akhirnya Dia mengabulkan doa Sultan.  Sekarang kau ada di sini!”. “Apa maksudmu?”, aku heran dengan apa  yang dikatakannya. Apakah Saladin  mendoakanku? “Setelah aku selamat karena  pertolonganmu, aku menghadap Sultan  dan kuceritakan semua yang terjadi.!”,  Ahmad menceritakan.

Dia mengajakku  duduk di dekat sebuah api unggun yang  menebarkan kehangatan pada sekitarnya.  “Kulihat Sultan murka, dan Beliau  bersumpah Beliau sendirilah yang akan  menghukum Reynald atas perbuatannya,  sebab melanggar perjanjian, membantai,  dan menginjak-injak kehormatan Islam.  Untuk itu jugalah kami di sini malam ini!”.

Aku mendengarkan ceritanya  dengan seksama. Memang aku akui bahwa  aku sendiri tidak menyukai apa yang  banyak dilakukan tentara Kristus dan para  pemimpin mereka. “Aku juga menceritakan  tentangmu, dan Sultan sangat gembira.  Beliau mendoakanmu agar bahagia di  dunia dan akhirat, dan beliau ingin sekali  bertemu denganmu.”, Ahmad tersenyum  padaku. “Dan kau lihat, Allah telah  mengabulkan doa Sultan, sekarang kau ada  di sini.

Akan aku antarkan kau kepada  Sultan. Mari!”. Ahmad mengajakku. Kami bangkit  meninggalkan api unggun itu dan berjalan.  Aku mengikuti Ahmad. Aku tak tahu  kemana dia akan membawaku. “Kalau boleh kutahu.”, kataku. “Kenapa  perkemahan pasukanmu sangat sepi?  Kemana semua orang?”. Ahmad tersenyum. “Kau akan tahu  sebentar lagi.”. Kami terus berjalan  menyusuri  kemah2 kosong  yang diterangi liukan  kobaran api pada obor. Hingga  sampailah kami pada kemah yang paling  ujung. Di belakangnya, di balik sebuah  gundukan tanah, pada permukaan rumput  di sebuah dataran di Acre, kulihat sebuah  pemandangan yang menakjubkan yang  seumur hidupku belum pernah aku lihat.  Apa yang aku lihat kemudian menjawab  pertanyaanku, tentang mengapa kaum  Saracen selalu menang dalam tiap  pertempuran walaupun jumlah mereka  sedikit. Mengapa mereka begitu gigih dan  kuat.!! Di sana, di sebuah dataran luas  berumput itu kulihat ribuan prajurit  Saracen sedang berbaris bersujud di  tengah2 angin dingin dan cahaya remang  obor yang ditancapkan di sekitarnya.  Mereka bersujud kepada Tuhan mereka  dalam sepi dan heningnya malam.

 Kulihat  paling depan Saladin memimpin mereka  dalam ibadah itu. Setiap Saladin berdiri,  ribuan prajurit mengikutinya, sungguh  sebuah ketaatan yang belum pernah aku  lihat. Saladin membaca sebuah bacaan  yang begitu merdu dan membuat hatiku  rawan saat mendengarnya. Mungkin itulah  bacaan Al-Quran, kitab suci orang2  Saracen. Kulihat beberapa prajurit  menangis tersedu-sedu memohon  ampunan dari Tuhan. Mereka semua  seperti rahib yang berdiri dan bersujud  demi cinta pada Tuhannya dan menangisi  dosa2 mereka pada malam hari. Dan  mereka berubah menjadi prajurit2 tangguh  yang tidak pernah kenal takut pada siang  hari.


Dadaku gemetar melihat semuanya  ini. Sebab apa yang aku lihat pada diri  Prajurit Kristus sungguh sangat berbeda.  Mereka senang mabuk2an, dan kerap  membawa perempuan ke dalam benteng  untuk memuaskan nafsu rendah mereka.  Mereka bukan Tentara Kristus bagiku, tapi  tentara Iblis. Apa yang mereka lakukan tak  pernah diajarkan Tuhan Yesus. [] 
Diberdayakan oleh Blogger.