Header Ads

Bad Ending

Enggak di kota, enggak di desa, enggak yang tajir, nggak yang kere, hampir semua ngerayain tahun baruan. Acara yang wajib ada di malam tahun baruan ini biasanya arak-arakkan di jalan raya, baik jalan kaki maupun konvoi pake kendaraan bermotor. 

Nggak lupa tiup terompet, nyalain petasan dan pastinya pesta kembang api. Ditambah lagi dengan digelarnya konser-konser musik di setiap kota, mulai dari konser dangdut koplo organ tunggal yang biasa diramaikan dengan aksi mabok dan adu jotos para penonton, sampe konser full string orchestra yang melibatkan diva dan band papan atas plus diliput secara live oleh stasiun tv nasional. 

Bagi yang berkantong tebal, nggak jarang malam tahun baruan dihabiskan dengan dugem or party-party di klab atau disko. Campur aduk laki-laki dan perempuan semalam suntuk, ditemani dengan minuman beralkohol yang harga sebotolnya cukup buat bayar SPP sebulan. Ck ck. 

D'Riser, momen akhir tahun sejatinya ditutup dengan muhasabah diri untuk perbaikan kualitas hidup, bukannya dengan pesta-pesta yang menambah daftar dosa. Apalagi, Islam nggak mengajarkan umatnya untuk merayakan tahun baru. Jangankan tahun baru masehi, perayaan tahun baru hijriyah aja nggak ada dari sononya tuh. Sebagai muslim, kita harus ingat bahwa hidup kita cuma sementara. Tapi kematian juga bukanlah akhir dari perjalanan kita. Karena setelah kematian Allah swt akan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan kita. Perayaan tahun baru hanya akan memperburuk catatan amal kita. Bahkan boleh jadi akan memuluskan jalan kita menuju neraka. Iih...amit-amit deh. 

So, hati-hati dengan gemerlap pesta pora karena dibaliknya banyak jebakan dosa. Mari kita jhauhi maksiat, biar hidup kita happy ending![] 

Diberdayakan oleh Blogger.