Header Ads

DI ATAS JALAN PERJUANGAN

Setiap hari Allah Subhanahu wata’ala memberikan pengajaran kepada kita semua. Melalui berbagai peristiwa, terkandung pelajaran yang amat berharga. Karena perkataan adalah cerminan sebagian isi hati, melalui berbagai kejadian akhir-akhir ini, kita jadi tahu siapa kawan dan siapa lawan. Bagaimana kita bersikap saat merepon suatu peristiwa, tentu akan disaksikan oleh Allah dan kaum Muslimin. Sikap itulah yang akan menentukan siapa diri kita.
Saudara-saudara kita di Rohingya sedang menghadapi pemusnahan yang amat mengerikan. Peristiwa itu terjadi atas izin Allah Subhanahu wata’ala, jangan salah sangka, bukan karena Allah kejam dan tak ‘berperikemanusiaan’. Tetapi, sebagaimana sudah Dia jelaskan di dalam Al-Quran, setiap kehidupan dan kematian diciptakan untuk melihat siapakah orang yang terbaik amalnya (lihat surah al-Mulk ayat 2).
Untuk menyikapi satu peristiwa Rohingya saja, ada banyak sekali sikap yang diperlihatkan kaum Muslimin. Mereka yang ikhlas, memiliki kemampuan tempur, dan memiliki keunggulan kekuatan daripada Muslim yang lain, bersegera berangkat ke Myanmar untuk berjihad di jalan Allah. Inilah amal yang sebaik-baiknya. Umat Islam yang tidak memiliki kekuatan tempur, berada dalam posisi lemah, namun masih memiliki keikhlasan dan rasa ukhuwah Islamiyah, berjuang dengan cara apa pun yang diridhoi Allah ‘azza wajalla, untuk membantu saudara-saudara mereka yang tengah ditindas. Ada yang menggalang dana, ada pula yang membuka posko-posko bantuan. Mereka yang dianugerahi Allah keberlimpahan harta, menyumbangkan sebagian hartanya demi saudara-saudara mereka. Ada pula kaum Muslimin yang tak henti membagikan kesadaran kepada sesama, bahwa penindasan yang terjadi atas Muslim Rohingya, akibat tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah, dan umat Islam tidak memiliki institusi pelindung yakni Khilafah Islamiyah. Ini pun adalah amal yang sangat mulia. Ribuan kaum Muslimin tumpah ruah di depan kedubes Myanmar untuk memberikan tekanan politik kepada pemerintahan yang zhalim itu.
Semua ini adalah suatu sinyal yang sangat kuat, bahwa ukhuwah Islamiyah belumlah mati. Inilah suatu tanda yang sangat nyata, bahwa jika ada satu bagian umat Islam yang disakiti, artinya seluruh umat Islam akan merasakan sakitnya. Fenomena ini melintas batas nasionalisme. Mendobrak sekat-sekat kebangsaan. Sebuah kecenderungan alamiah, bahwa umat Islam pada hakikatnya tidak sudi dikungkung dalam batas-batas teritorial. Umat Islam bahu membahu, saling membantu. Itulah jalan perjuangan kaum Muslimin.
Tetapi di tengah gegap gempita ini, ada saja beberapa kalangan kaum Muslimin yang bersikap sebaliknya. Mereka malah nyinyir dengan segala gerak juang kaum Muslimin. Ada yang bilang “konflik Rohingya adalah urusan bangsa lain”, ada juga yang berkata “jangan bawa-bawa urusan luar negeri ke dalam negeri”, atau “urusan dalam negeri saja sudah bejibun”. Ada juga yang bilang bahwa “tidak perlu berangkat berjihad ke Rohingya, karena ulil amri (Presiden) kita tidak mengizinkan.” Lebih parah lagi, sebagian kalangan bahkan mempersalahkan Muslim Rohingya yang sedang ditindas, “kalau sekarang mereka dimusnahkan, berarti itu karena dosa-dosa dan kemaksiatan mereka sendiri.” Na’uzhubillahi min dzalik. Semoga Allah ‘azza wajalla selalu menunjukkan kepada kita bahwa yang haq itu haq dan yang batil itu batil, dan memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti kebenaran. Di sanalah jalan perjuangan kita.[] @sayfghazi
Diberdayakan oleh Blogger.