Header Ads

Diantara kekejaman kaum Musyrik Buddha Myanmar

(Laporan Fortify Rights,
Organisasi kemanusiaan yang berbasis di Bangkok Thailand,
Berdasarkan kesaksian dari warga desa Chut Pyin,
Rathedaung)

1. Kaum Biksu Buddha berjubah merah menguliti daging pantat, kaki, tangan dan bagian-bagian tubuh Muslim Rohingya.

2. Tentara Myanmar memutilasi hidup-hidup Muslim Rohingya. Mulai dari kaki kanan, tangan kanan, kaki kiri, dan tangan kiri. Dipotong dan dibacok-bacok dengan parang. Tapi korbannya tetap dibiarkan hidup.

3. Pencegatan di pinggir sungai oleh warga Buddha Myanmar. Siapa saja Muslim yang berhasil menyebrangi sungai, dengan sadis dibacok berame-rame hingga mati.

4. Beberapa Muslim Rohingnya diminta menggali tanah. Setelah cukup dalam, segerombolan Buddha meminta mereka masuk ke dalamnya. Lalu diberondong senapan, disiram bensin lalu dibakar.

5. Ibu-ibu dipotong tangannya dan dihancurkan kemaluannya hingga hancur rusak sehancur-hancurnya.

6. Beberapa Muslim Rohingya dikepung warga, ditelentangkan di tanah, lalu tangan dan kakinya dipukul berkali-kali dan dihancurkan dengan godam. Disaksikan dan dilakukan oleh puluhan warga Buddha.

7. Anak-anak dibakar hidup-hidup, yang berhasil meloloskan diri sekujur tubuhnya melepuh terbakar.

8. Anak remaja diseret dari sungai dalam keadaan telanjang bulat. Diikat kepalanya dengan tali lalu diseret. Kemudian digantung hingga mati setelah disiksa dengan sadis.

9. Beberapa Muslim Rohingya dibakar hidup-hidup dan dikepung oleh warga Budha. Jika mencoba bangkit, parang-parang tajam dibacokkan ke tubuh mereka. Akhirnya, semuanya mati dan hangus terbakar.

10. Anak kecil seusia 2 tahunan disetrum dengan senjata penyetrum. Jika menangis, digampar dan dipukul lagi oleh tentara. Begitu seterusnya.

11. Segerombolan tentara Budha Musyrik membakar rumah-rumah Muslim Rohingya. Lantas menembaki membabi buta jika ditemukan penghuni rumah Muslim Rohingya.

12. Pembakaran anak-anak Muslim Rohingya. Jika masih ada yang bergerak, disiksa dan dibacok dengan sadisnya. Akhirnya semua hangus terbakar.

13. Pembantaian para wanita, anak-anak balita hingga nenek-nenek tua renta oleh segerombolan tentara Budha Myanmar. Dengan luka sekujur tubuh yang menganga.

_Dengan alasan khawatir Myanmar akan seperti Indonesia,_
_Indonesia yang awalnya mayoritas Budha menjadi Mayoritas Islam,_
_mereka memilih membantai Umat Islam yang ada di Myanmar._

Myanmar cuma negara kecil,
kumuh,
terbelakang,
dengan kekuatan militer yang tak diperhitungkan dunia.

Tapi Myanmar membuat dunia islam malu,
banyak umat islam dibantai,
dimutilasi hidup hidup.

Lalu kemana pasukan negeri-negeri muslimi yang kuat militernya?

Sungguh sebenarnya,
cukup militer indonesia saja yang maju, Myanmar pasti akan hancur lebur.

Tapi mengapa Myanmar begitu berani membantai muslim rohingya tanpa ada rasa takut pada umat islam?

Karena Pemerintah Myanmar tahu,
Monster betina Aung San Suu Kyi yakin,
bahwa negara negeri-negeri muslim tidak akan membantu muslim Rohingya secara militer.

Ingat....
Kasus Rohingya tidak terjadi hari ini saja,
pembantaian itu berlangsung sejak tahun '90an.

Namun tidak ada satupun negara yang berani mengirimkan militer mereka guna membela muslim Rohingya
(paling banter hanya kecaman dan ancaman/gertak sambal belaka).

Padahal jika mau....
dengan senjata nuklirnya,
Pakistan misalnya,
bisa menghapus myanmar dari peta dunia kapanpun itu.

Lalu apa sebabnya pemimpin dunia islam diam?

Karena muslim Rohingya dianggap bukan urusan mereka.

Seemua itu terjadi karena kita disekat oleh "Nasionalisme",
umat islam di kerat menjadi negara kecil-kecil,
dilemahkan dan jadi santapan "monster-monster" buas.


*Umat Islam Perlu untuk Menolong Muslim Rohingya*

Pembantaian kembali dilakukan rezim Budha Myanmar kepada minoritas Muslim Rohingya sejak Jumat kemarin namun anehnya tidak ada satu pun penguasa negeri Muslim yang mampu menolongnya.

Ini menunjukkan kesekian kali betapa lemahnya umat Islam.

Umat Islam dari kuantitas saat ini berjumlah lebih dari 1,6 milyar di seluruh dunia.

Bagaimana mungkin jumlah umat Islam yang begitu besar itu tidak mampu menolong saudaranya yang menderita di Rohingya.

Sampai-sampai, Muslim Rohingya disebut sebagai entitas yang paling menderita di seluruh dunia.

Ini telah berlangsung bertahun-tahun tetapi sampai sekarang tidak ada solusi bahkan kecenderungannya mereka semakin menderita karena Muslim Rohingya yang sudah berada di Bangladesh mau dideportasi begitu juga yang di India.

Mereka itu betul-betul sudahlah terusir dari kampung halamannya sendiri,
barulah berada di tempat relatif aman pun juga terusir.
Mereka seolah-olah menjadi manusia yang tidak punya tempat untuk berdiam.

Inilah yang disebut sebagai stateless, Warga yang tidak punya negara.

Ini suatu keadaan yang sangat menyedihkan.

Allah menyebut kaum Muslimin sebagai khairul ummah.

Bagaimana mungkin khairul ummah itu keadaannya seperti ini.

Mengapa hal itu terjadi?

Itu karena umat Islam tidak mempunyai kekuatan untuk menolong saudara-saudara kita.

Di Myanmar itu ada penguasa yang disebut-sebut sebagai pendekar demokrasi,
bahkan pernah mendapatkan hadiah nobel perdamaian,
Aung San Suu Kyi,
tapi ternyata dia setelah menjadi penguasa tidak berbuat apa-apa untuk menolong rakyatnya sendiri.

Muslim Rohingya itu bagian tak terpisahkan dari Burma (sekarang ganti nama jadi Myanmar),
bahkan Rohingya ada lebih dulu dibandingkan Burma.

Tapi alih-alih memberikan pertolongan,
bahkan menyebut kata “Rohingya” pun tidak pernah dilakukan Aung San Suu Kyi.
Jadi ini semestinya menyadarkan kita semua,
umat Islam,
bahwa tanpa persatuan umat Islam itu akan terus menjadi entitas yang sangat lemah.

Karena itulah diperlukan persatuan.

Dan untuk bersatu itu diperlukan institusi yang akan menyatukan umat Islam.

Karena itulah institusi itu sesuatu yang sangat penting,
sangat mutlak,
karena dengan adanya institusi ini maka kewajiban-kewajiban yang lain akan terlaksana termasuk kewajiban untuk menolong saudara kita yang mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh Muslim Rohingya.

Permasalahan suku Rohingya itu bukan bencana alam yang bisa hilang hanya dengan bantuan dana dan doa,
walau itu tetap harus kita lakukan secara maksimal

Masalah di sana adalah pembantaian,
tidak diakui sebagai warganegara sebab beda etnis dan beda agama,
mereka lalu diperlakukan seperti bukan manusia

Karena masalahnya adalah masalah fisik,
karena itu solusinya pula harus fisik,
penghentian pembantaian itu.

Pertanyaannya, siapa sekarang yang mampu melakukan?

PBB terbukti gagal,
sebab masalah ini sejak lama.

ASEAN tidak berkutik.

Dunia juga hanya bisa mengecam tanpa aksi nyata.

Penyelesaian itu hanya bisa dilakukan oleh sebuah kekuatan yang setara dengan negara juga,
sebab pembantaian suku Rohingya dilakukan pula oleh negara.

Negara mana yang peduli pada mereka?

Tentu negara yang menjadikan ukhuwah sebagai pengikatnya,
karenanya bisa melebihi sekat etnis dan sekat nasionalisme.

Disini urgennya Institusi yang membela kaum Muslim dimanapun berada,
walau terpisah jarak.

Begitu syahadat sudah diucap,
maka kaum Muslim adalah saudara.

Begitulah konsep yang diajarkan oleh Nabi kita.

Sebab ummat Muslim itu satu tubuh,
ketika yang satu tersakiti,
maka seluruh badan merasakan pedihnya.

Dan akan berbuat sesuatu agar bagian itu tak sakit lagi.
Diberdayakan oleh Blogger.