Header Ads

“Jangan Mengutuk Gelapnya Malam, Tapi Carilah Pelita"

Saya kembali ingin membahas sebuah ungkapan yang sering kali digunakan untuk menutupi sebuah kezaliman. Apakah bahasa saya terlalu ekstrem? Apakah ungkapan di atas seringkali digunakan untuk menutupi kezaliman? Benar, ungkapan di atas sering kali digunakan untuk menutupi kezaliman. Sekarang mari kita bicarakan.

Ungkapan di atas pernah disampaikan oleh seorang politisi besar di negeri ini ketika dia hendak menyikapi aksi orang-orang yang selalu mengkritik pemerintah. Dia tujukan kalimat di atas untuk orang-orang yang kerjaannya mendemo kebijakan pemerintah. “Jangan bisanya cuma mengkritik dan mengutuk, ambillah tindakan nyata atas berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Jangan mengutuk gelapnya malam, karena hal itu tidak ada gunanya. Tetapi carilah pelita yang akan menerangi diri kita sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar kita.”

Dengan demikian kalimat di atas seringkali digunakan untuk mencibir para pejuang syariat Islam yang selalu mengkritik kebijakan zalim pemerintah sebagai orang-orang yang hanya bisa mengutuk, lain tidak. Para pejuang syariat Islam itu bisanya “OMDO” dan “NATO”, miskin aksi nyata. Benarkah begitu?
Ungkapan di atas memang terdengar mulia dan patriotis sekali di telinga saya, mungkin juga di telinga anda. Dan banyak orang sudah ditipu olehnya. Tapi sebenarnya ada sebuah kesalahan analogi, simplifikasi, dan absurditas di sana, yang kesemuanya itu “mempertakut” dan “memperkeruh”, serta menyebabkan “kontroversi” di hati saya (vicky mode on). Mari kita telaah lebih lanjut.

Dunia pasti akan selalu diselimuti oleh malam dan siang, begitu terus sejak jaman Fir’aun masih bujangan (lha?). Datangnya malam yang gelap dan menakutkan itu tidak akan bisa dicegah oleh siapa pun. Kalau malam sudah waktunya, pasti dia akan datang, tidak akan bisa ditahan-tahan. Karena itulah mengutuk datangnya malam adalah sebuah tindakan yang bodoh. Tindakan yang cerdas bukanlah mengutuk datangnya malam, melainkan memersiapkan kedatangan malam itu. Karena malam itu gelap, maka siapkan pelita. Karena malam itu menyeramkan, maka jangan keluar malam-malam, segala hal yang mungkin kita butuhkan di saat malam, persiapkan ketika masih siang. Kira-kira begitu!!!

Nah, sekarang apakah kondisi “malam” itu bisa disetarakan dengan kondisi sekarang yang penuh dengan kesengsaraan? BBM mahal, listrik mahal, pajak tinggi, kemiskinan, penindasan, penghisapan, dan berbagai kesengsaraan yang terjadi saat ini, apakah bisa disetarakan dengan “malam”? Tentu saja tidak tepat. Dan tidak akan pernah bisa tepat. “Malam” itu adalah sebuah kondisi yang alami, dia memang sudah seharusnya seperti itu. Tanpa ada “campur tangan manusia” pun, waktu “malam” pasti akan datang, sehingga memang sebuah tindakan yang bodoh jika kita merutuki malam. Sementara itu, listrik mahal, pajak tinggi, sembako naik, kemiskinan, penindasan, penghisapan, dll, semua itu adalah hasil dari ketidakadilan manusia. Ada ulah tangan dan kezaliman manusia di sana. Dengan kata lain, kalimat “Jangan Mengutuk Gelapnya Malam, Tapi Carilah Pelita!” tidak bisa digunakan untuk kemiskinan, penindasan, penghisapan, dan seterusnya seperti tersebut di atas. Justru kita wajib mengkritisi semua kebijakan dan tindakan zalim yang sedang ditimpakan kepada rakyat itu sambil terus menghadirkan pelita dengan membantu sesama.

Jelaslah, bahwa tindakan para pejuag Islam yang rajin mengkritisi kebijakan pemerintah itu adalah tindakan yang tepat. Selain itu, tindakan tersebut diwajibkan oleh Allah dan RasulNya dalam berbagai ayat Alquran dan berbagai hadits. Semua itu dilakukan agar rakyat sadar akan penipuan dan kezaliman yang ditimpakan kepada mereka, untuk kemudian bergerak mewujudkan sebuah perubahan hakiki bagi kehidupan mereka sendiri. Wallahu a’lam.

Sayf Muhammad Isa
Diberdayakan oleh Blogger.