Header Ads

LULUS BELUM TENTU YANG TERBAIK

(c) Fahmi Amhar
Hari-hari ini, ratusan ribu (atau bahkan jutaan) anak-anak muda ikut "berjuang" dalam seleksi memperebutkan formasi PNS/ASN yang lagi digelar serentak di berbagai instansi.
Hari-hari ini, ratusan PNS yang cukup senior juga ikut "berjuang" dalam seleksi memperebutkan formasi Jabatan Pimpinan Tinggi (Eselon 1 atau Eselon 2) di berbagai Kementerian/Lembaga.
Banyak di antara mereka menambah ikhtiar itu dengan puasa, sholat malam, sholat hajat dan berdoa.
Bahkan ada yang membantu peruntungannya dengan banyak bersedekah, bersilaturahmi, karena meyakini sedekah dan silaturahmi itu menambah umur dan memperluas rizki.

Dari pengalaman saya belasan kali menjadi penguji dalam seleksi CPNS, motivasi merekapun beraneka. Ada yang terus terang, ingin bekerja di tempat yang lebih mapan, dibandingkan dengan swasta yang "terlalu dinamis". Ada juga yang karena merasa jadi PNS dapat kesempatan lebih besar untuk sekolah lagi (S2, S3). Ada yang tampak lebih idealis: ingin berkontribusi lebih besar bagi bangsa dan negara. Namun ada juga yang karena alasan pragmatis: ingin bekerja yang lebih dekat dengan rumah, karena sebelumnya tempat kerjanya (swasta) cukup jauh, atau bahkan sebelumnya jadi buruh TKI di LN.

Hanya sayang, banyak yang menyangka, bahwa sukses tidaknya mereka diukur dalam satu parameter: lulus ujian seleksi, atau terpilih sebagai pejabat.
Itu karena sesungguhnya mereka menyukai hal itu dari sudut duniawi. Padahal apa yang mereka sukai itu belum tentu baik bagi mereka:

" ... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. 2:216)
Mungkin memang tidak lolosnya mereka pada seleksi itu karena faktor X. Mungkin memang ada orang-orang curang yang menggeser posisi kandidat yang jujur dan berbakat. Bahkan mungkin ada tekanan dari kekuasaan gelap yang ingin mencegah calon-calon yang disinyalir dekat dengan organisasi yang suka kritis pada kekuasaan.
Namun apapun yang terjadi, skenario Allah jelas skenario yang terbaik. Skenario Allah jelas yang terbaik dari segala dimensi, bukan hanya dimensi duniawi, apalagi hanya dimensi materi.
Karena itu, kalau mau berdoa, maka berdoalah agar apapun yang terjadi itu menyelamatkan agama kita, menyehatkan jasmani dan ruhani kita, meningkatkan ilmu kita, menambah keberkahan rizki kita, dan memberi kesempatan kita bertaubat sebelum maut menjemput kita.
Dan apabila nanti kita bukan termasuk yang mendapat "kabar gembira", tetaplah optimis, bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari yang kita impikan semula.
Diberdayakan oleh Blogger.