Header Ads

No Suami No cry

Gonjang-ganjing kehidupan rumah tangga tidak bisa dilepaskan dari kaum  hawa. Kian hari, jumlah perempuan dengan status 'single parent' dengan  Gberbagai sebab musabab kian membengkak. Mulai dari janda ditinggal  mati sampai single parent akibat pergaulan bebas. Padahal bisa dibayangin  sulitnya menjalani segalanya dalam kehidupan rumah tangga 'sendirian'. Mulai  dari ngurusin anak sampai urusan nafkah.

Apalagi di jaman yang serba mahal  begini. Hiks! Namun seiring gencarnya ide feminisme, fenomena single parent justru  sering jadi pilihan perempuan sebagai ekspresi sifat egoisnya. Merasa dirinya  ngga butuh dengan kehadiran laki-laki. Dan menganggap kaum adam sebagai  pembawa bencana atau bikin rumit kehidupan. Ketua Komisi Pemantauan  Komnas Perempuan, Arimbi Heroepoetri, menyebut pada tahun 2010 terdapat  3.530 kasus kekerasan perempuan di ranah publik seperti pemerkosaan,  pencabulan dan pelecehan seksual. Tercatat 445 kasus kekerasan terhadap  perempuan di ranah negara atau naik delapan kali lipat dari tahun 2009.

Lebih  lanjut Arimbi Heroepoetri mengatakan bahwa angka terbesar tetap berasal dari  ranah pribadi, atau KDRT, yang mencapai hampir 96 persen jumlah kekerasan  terhadap perempuan.  Nah,,,, ramainya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bikin  'ogah' bin trauma sebagian perempuan untuk bersuami (lagi). “Mending diriku  menjanda, ketimbang hidup meradang bersama suami bajingan”, begitulah kira-kira. Aduhh, malang nian nasib engkau hai perempuan. Kadang kita lupa bahwa  Allah Swt pasti punya maksud dan tujuan dalam menciptakan jenis laki-laki  maupun perempuan. Seorang anak tetap butuh sosok seorang ayah dalam masa  perkembangannya.

Sehebat apa pun usaha perempuan untuk mengelak, figur seorang ayah dan kepala rumah tangga tidak bisa  tergantikan. Catet! Terlebih lagi, kita mesti jeli ngeliat Kasus KDRT yang  terjadi. Terlalu cepat mengambil kesimpulan jika kita  menyalahkan satu pihak dan membenarkan pihak  lainnya. Karena kehidupan rumah tangga ditopang  oleh banyak faktor yang mempengaruhi perilaku para  penghuninya. Terkadang kita lihat suami hanya bisa  berkomunikasi dengan kekerasan untuk  menunjukkan kemarahannya. Disisi lain, kita juga  melihat adanya istri yang melecehkan kehormatan  suami baik dengan sindirian maupun bahasa tubuh. 

Jadi sebenernya, penyebab KDRT banyak dipengaruhi  akibat rapuhnya fondasi rumah tangga dan rusaknya  sistem tatanan kehidupan. Bukan dominasi satu  pihak terhadap pihak lain.  Dalam kehidupan Islam, kehidupan rumah  tangga akan terjaga sempurna. Negara akan  menjamin agar setiap suami berpenghasilan untuk  menafkahi keluarganya. Terlebih, negara juga  memberikan jaminan bagi kesehatan, pendidikan,  dan kesejahteraan setiap keluarga. Jika seorang istri  menjadi janda, Negara pun bertanggung jawab untuk  memenuhi kebutuhannya.


Tidak ada celah yang  mendorong terjadinya KDRT.  Dan jika kehidupan kita diatur dengan syariah Islam,  insyaallah keberkahan lahir batin akan terpenuhi.  Bukan hanya perempuan yang selamat, laki-laki pun  akan mampu memimpin keluarga dengan benar  dengan segala kecukupan dan kenyamanan.  Pemimpin yang baik akan lahir dari sistem yang baik  pula. Tidak satu pun yang muncul dari sistem yang  rahmat melainkan kebaikan bagi segala penjuru  alam. Wallahu'alam. [Alga Biru] 
Diberdayakan oleh Blogger.