Header Ads

Rapor Merah Sinetron Remaja

Televisi, siapa yang nggak tau kotak  ajaib ini. Anak balita aja tahu kalo  Tbarang elektronik yang bisa  menayangkan gambar dan bunyi ini,  memang sudah bukan barang asing lagi. Di  negerinya Si Bolang ini, udah ada 11  stasiun televisi yang bersiaran secara  nasional.

Siaran ini bisa ditangkap kurang  lebih 40 juta rumah tangga yang punya  televisi di Indonesia.  Apalagi kalo jaman  udah canggih gini, televisi bisa ditonton via  internet, bahkan hape bisa juga ada Teve-nya. Kadang juga klo gak sempat nonton  teve di rumah, di mobil pun sekarang juga  bisa dipasang teve. Hemm.. Sobat, coba kita hitung yuk, klo misal  saja satu rumah beranggotakan 5 orang,  dengan 40 juta rumah tangga, maka  penonton teve kurang lebih 200 juta jiwa.  

Kalo diperkirakan satu stasiun TV bersiaran  selama 20 jam sehari, maka setiap hari  ditayangkan sekitar 220 jam acara TV yang  siaranya bisa dari luar maupun produksi  lokal. Dalam setahun, diperoleh angka  kurang lebih 80.000 jam. Ckckckck... Makanya nggak heran kalo teve  memang bukan barang mewah lagi. Teve  sudah jadi tontonan paling murah. Mulai  dari siaran berita, bola, wisata, film, musik,  gosip sampe sinetron. Nah, diantara  beberapa tayangan teve, sinetron-lah yang  menjadi jenis tayangan yang paling  menonjol dan paling tinggi frekuensinya  penayangannya di teve. Padahal kita tahu,  klo sinetron atau film, menggambarkan  kehidupan sehari-hari, karuan aja klo  kemudian remaja-remaja kita mencari  contoh perilaku mulai dari urusan dandan,  cara gaul, cara berjalan, bahkan cara tidur  pun mencontek dari sinetron.

Catatan Merah Sinetron Remaja Sobat, sebenarnya bisa dibilang semua  orang pada tahu klo sinetron yang sering  ditayangkan lebih banyak yang merusak  daripada yang tidak merusak. Nggak usah  disebutin satu per satu judul sinetron,  silahkan nanti sobat cari tahu sendiri  dengan nonton jadwal tayangannya. Tapi  perlu diingat lho, kita menulis begini  bukan karena kita benci, sok suci, tapi  lebih karena kita sayang kepada sesama  generasi muda yang klo nggak kritis atau  nggak punya filter/daya saring yang kuat  terhadap tayangan macam sinetron, maka  semuanya yang ada di teve itu ditiru habis-habisan. Btw, sinetron remaja klo kita lihat dari  segi penokohan lebih terkesan tokoh  dewasa yang dibuat kekanak-kanakan, dan  ada yang sebaliknya pemainnya adalah  anak-anak yang dipaksa untuk dewasa.  

Trus dari segi tema sinetron remaja nggak  jauh-jauh dari soal cewek yang ngerebutin  cowok atau sebaliknya, persaingan untuk  menjadi orang beken di sekolah, pamer  kekayaan ortu ke sekolah, seragam sekolah  yang superketat dan mini, takhayul,  kehidupan yang glamour, cerita yang  nggak mungkin terjadi di dunia nyata, dan  peran orang tuanya nggak jauh-jauh dari  soal rebutan harta. Ironisnya, dalam catatan KPI alias  Komisi Penyiaran Indonesia, sinetron yang  berbau islam macam “Islam KTP”  mendapat teguran, karena sinetron Islam  KTP pada tanggal 18 Juli 2011 pukul 18.54  WIB menampilkan kata-kata kasar dan  makian.

Yang sebenarnya kejadian seperti  itu terjadi pada sinetron yang lainnya juga.  Dalam catatan KPI, bahwa KPI menerima  ribuan pengaduan tayangan televisi  selama periode Januari hingga September  2011 sebanyak 2.540 kasus. Dan yang  paling banyak diprotes oleh masyarakat  adalah sinetron sebanyak 156 laporan.  (kpi.goi.id). Sob, banyaknya laporan, teguran,  protes atau apapun bahasanya,  menunjukkan klo masyarakat sudah ngeh  akan 'pelanggaran' yang sering dilakukan  teve, dalam hal ini sinetron. Dan yang  lebih parah lagi, ada beberapa sinetron  yang membawa nuansa Islam, tapi malah  berlawanan dengan nilai-nilai Islam. Ambil  contoh aja, ada sinetron “Kukhitbah Kau  Dengan Bismillah”.


Sinetron yang awalnya  mengambil latar belakang mahasiswa  Indonesia yang kuliah di Turki, dimana  Turki dijadikan simbol Islam, tapi justru di  sinetron yang dibintangi Natasha Rizki,  Dimas Anggara, Ramzi, Richard Kevin, dan  Poppy Bunga malah ngasih contoh yang  tidak Islami.  Kalo sobat muslim, sedikit menyimak  salah satu episode sinetron tersebut, di  salah satu episodenya digambarkan Dimas  Anggara (sebagai tokoh Amar) bertemu  dengan Natasha Rizky Pradita (Nirvana).  Amar adalah santri asal Situbondo, Jawa  Timur, yang mendapatkan beasiswa untuk  memperdalam Islam di kota Istanbul,  Turki. Sedangkan Nirvana seorang fashion  designer glamour yang sedang berlibur ke  Turki. Namun Nirvana yang awam akan  Islam, bahkan sholat saja belum bisa,  kemudian belajar Islam pada Amar.

Nah di  tengah proses belajarnya itu, keduanya  terlibat secara perasaan, yang akhirnya  bisa dibilang mereka jatuh cinta dan  ujungnya mereka pacaran, walaupun di  sinetron tersebut secara malu-malu dan  sembunyi-sembunyi memperlihatkan  bagaimana mereka pacaran di masjid dan  sebagainya. Di beberapa episode  berikutnya, ternyata Nirvana adalah  seorang janda beranak satu hasil  hubungan gelapnya dengan yang nggak  jelas statusnya  entah suami atau mantan  pacarnya, yang anak hasil hubungan itu,  mereka buang.   Nggak hanya pacaran yang dibungkus  rapi dengan nilai-nilai Islam, di sinetron itu  bisa dibilang juga bentuk penghancuran  secara halus citra Islam. Di situ ada tokoh  Nordin (diperankan Ramzi) teman sekamar  Amar di Turki, yang disitu Nordin secara  sengaja digambarkan sebagai seorang  Islam yang cenderung fundamental  (keras), kaku yang sebenarnya menentang  sikap-sikap amar yang cenderung moderat  (mengambil jalan tengah).

Ada juga  ditokohkan disitu Gus Mujo seorang  pemilik pondok pesantren, dilukiskan  sebagai seorang pimpinan pondok  pesantren yang ingin menikah lagi di satu  sisi, sementara di sisi yang lain anak  perempuan Gus Mujo, sudah nggak  perawan lagi, plus ditambah istri Gus Mujo  juga yang nggak beda dengan gambaran  seorang istri di sinetron-sinetron lainnya,  antagonis, pemarah, galak, jahat dan  sebagainya. Padahal bisa jadi mungkin ada  gambaran tokoh masyarakat yang seperti  itu, tapi ketika gambaran itu ditempelkan  kepada seorang tokoh macam Gus Mujo  yang seorang Kyai, maka dengan sengaja  sinetron itu ingin mencitraburukkan Islam.  Gaswat khan? Apa yang Musti Lakukan? Bagus banget kalo kamu bertanya  begitu,

Sob. Ya, bukan apa-apa, itu  menandakan bahwa kamu care alias nggak  cuek terhadap permasalahan yang terjadi  di tengah-tengah masyarakat. Coz, bisa  kita bayangkan kalo kemudian di tengah  masyarakat kita sudah nggak ada yang  peduli terhadap kerusakan, maka alamat  kerusakan yang makin besar akan  menimpa kita. Persis apa yang  digambarkan oleh Baginda Rasulullah Saw  14 abad yang lalu dalam sebuah hadisnya,  coba perhatikan: “Perumpamaan seseorang yang  komitmen berada dalam batas-batas Allah  dan yang terperosok ke dalamnya adalah  semisal satu kaum pada sebuah kapal,  sebagian mereka mendapatkan tempat di  bagian atas kapal dan sebagiannya  mendapatkan bagian di bagian bawah  kapal.

Orang-orang yang berada pada  bagian bawah kapal, jika mengambil air  mesti melewati orang-orang yang berada  di bagian atas, lalu mereka (orang yang  dibawah) berkata: 'kalau saja kita  membuat lubang pada jatah kita,  sehingga kita tidak mengganggu yang di  atas kita', maka, jika mereka membiarkan  maksud membuat lubang itu, niscaya  seluruh penumpang kapal akan celaka,  dan jika mereka memegang tangan yang  bermaksud membuat lubang itu, niscaya  mereka yang membuat lubang selamat  dan selamat pula seluruh penumpang  kapal”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitulah sob, jika kemungkaran kita  biarkan terus terjadi di tengah masyarakat.  Kemungkaran yang diluar televisi sudah  bejibun jumlahnya, apalagi kalo kemudian  ditayangkan dalam bentuk sebuah  sinetron yang ditonton sekian banyak  orang, maka sama saja teve itu  mendakwahkan kemungkaran, bukan  malah menghilangkan kemungkaran.  

Maka, kepedulian kita sebagai muslim  adalah awal yang bagus untuk  menyelamatkan masyarakat kita. Bukan  karena kita pengin disebut sebagai  pahlawan, tapi memang karena  kepedulian terhadap masalah di sekitar  kita, itu sudah menjadi bagian dari hidup  kita sebagai seorang muslim. Coba kita  simak salah satu hadits Nabi Saw berikut: "Siapa saja yang bangun pagi hari dan  ia hanya memperhatikan masalah  dunia(nya), maka orang tersebut tidak  berguna apa-apa disisi Allah, dan siapa  saja yang tidak memperhatikan urusan  kaum muslimin, maka ia tidaklah  termasuk golongan mereka” (HR  Thabrani, dari Abu Zharr Al ghifari, Al  Hakim)

Tuh khan, jadi di pagi hari aja kita udah  diingatkan agar nggak cuek terhadap  masalah kaum muslimin, kalo kita masih  cuek saja, maka di hadits tersebut kita  digolongkan bukan golongan kaum  muslimin. Ihhh.. Masya Allah. Trus, setelah kita care, peduli, apa  yang musti kita lakukan? Ya, paling nggak  setelah kita berhasil memunculkan  kepedulian pada diri kita, maka ada 2 hal  penting yang musti lakukan dan siapkan.  Apa itu? Yakni
(1) Mengkaji Islam secara  mendalam (kaffah);
(2) Mendakwah Islam  dengan metode yang dicontohkan  Rasulullah Saw.  Gimana caranya? Gampang, kita  tinggal datangi majelis-majelis ilmu yang  disitu mengajarkan Islam secara kaffah.  

Tapi ingat, ketika kita sedang mencari atau  sudah menemukan majelis/halaqah itu,  kita harus waspada dan cerdas atas upaya  orang-orang kafir yang membuat kabur  ajaran Islam, atau mereka yang secara  sengaja membuat Islam terkesan dipecah-pecah menjadi garis keras (fundamentalis)  dan garis tengah (moderat). Makanya,  istiqomah di jalan Islam itu menjadi  masalah penting, ketika sudah  menemukan majelis ilmu tadi. Setelah kita merasa yakin dengan ilmu,  tsaqofah, argumentasi logis yang  disampaikan oleh majelis atau kelompok  tadi, maka selanjutnya bergabunglah  untuk menjadi barisannya dalam dakwah.  Agar Islam dan syariatnya bisa memberi  solusi bagi masalah-masalah di sekitar  kita.


Coz cuman syariat Islam yang bisa kita  harapkan ngasih problem solving masalah  kita, dan bagi kita harus meyakini hal itu,  perhatikan firman Allah berikut: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka  kehendaki, dan (hukum) siapakah yang  lebih baik daripada (hukum) Allah bagi  orang-orang yang yakin ? (QS. Al Maidah  50). So, kita perlu bertanya kepada diri kita  sebagai muslim, hukum siapakah yang  lebih baik? Tentu saja hanya hukum Allah  yang terbaik, karena Allah adalah Sang  Creator (Pencipta) alam, manusia dan  kehidupan ini. Bukan begitu, Sobat?  (lukyrouf.blogspot.com) 
Diberdayakan oleh Blogger.