Header Ads

REMAJA BRUTAL CERMIN JAMAN

Bug! Hantaman sebatang bambu  pada kepala menyungkurkan Noel.  Ia coba bangkit berdiri. Tapi, crass!  B Sebilah celurit bergagang bambu  menyambit punggungnya. Noel yang  sudah bersimbah darah berupaya  melarikan diri dengan tenaga sisa.  Namun, sebuah pukulan membuatnya  roboh ke aspal. Mati. Itu bukan kejadian di sebuah film  gangster jalanan The Bronx, Amerika  Serikat. Melainkan di sebuah jalan sempit  di Ciracas, Jakarta Timur.

Pada malam minggu malam  jahanam itu, Noel, anak SMP, terlibat  dalam tawuran antar-geng remaja.  Ironisnya, perkelahian terjadi di Gang  Damai. Yang mencelurit Noel pun seorang  anak bandel yang masih duduk di bangku  SD. Namanya Far. Far kesal ketika tulisan cat  semprot kelompoknya, Chober, yang  menodai tembok-tembok rumah warga di  Gg Damai, Susukan, Ciracas, Jakarta  Timur, berganti nama menjadi kelompok  lain, Badui (Basis Dua Iblis).

Kelompok Chober yang mayoritas  anggotanya ABG yang hobby main bola  dan nongkrong di tepi kuburan, tidak  menerima coretan lawan yang dianggap  menghina. Akhirnya, kelompok Chober  mengajak Badui untuk bertemu di Gang  Damai, Sabtu (26/11) sekitar 20.30 WIB. Tak ayal, pertemuan berubah jadi  perkelahian, hingga Noel tewas kena  celurit. Peristiwa itu, lagi-lagi mewakili  brutalitas remaja yang cenderung kian  edan-edanan.  What's the matter? Menurut hasil survei Ofcom,  lembaga regulator media, dua pertiga  remaja Inggris usia 12-15 tahun mengaku  bermain video game kekerasan  mempengaruhi perilaku mereka.  Para remaja ini berpendapat,  kekerasan di video game punya efek yang  lebih tinggi ketimbang kekerasan yang  mereka saksikan di film atau televisi.  Maih menurut survei Ofcom,  68  persen orang dewasa percaya bahwa video  game membawa pengaruh negatif bagi anak-anak. Penelitian lain menyebut budaya  junkfood sebagai biang kerok brutalitas  remaja.

Times of India edisi 26 Agustus 2011  memaparkan penelitian terhadap 1.600 orang  remaja usia 14 tahun oleh Telethon Institut for  Child Health Research (TICHR) di  Subiaco,Perth, Australia. Hasil penelitian yang dipimpin DR  Wendy Oddy mengatakan, pola makanan ala  Barat (hamburger, kentang goreng, kue pie,  sosis, daging merah, gandum olahan, makanan  olahan dari susu lemaktinggi dan beraneka  saus), membuat seseorang cendrung bersikap  menarik diri, mudah gelisah, agresif, dan  jahat. Nah lo! Riset dari 50 negara selama kurun 50  tahun terakhir yang dipublikasikan jurnal  kesehatan The Lancet, menunjukkan,  kematian pada usia remaja lebih melaju  dibanding anak-anak.  "Gaya hidup modern lebih meracuni  remaja dan orang muda. Kecelakaan lalu lintas  terus meningkat, demikian pula kekerasan dan  bunuh diri. Anggapan bahwa masa muda  merupakan masa paling sehat dari hidup kita  tidak lagi benar adanya," kata penulis riset Dr  Russell Viner dari University College London  Inggris. Penelitian lain menyebut faktor lain  yang menyebabkan remaja brutal. Intinya  adalah, brutalitas remaja dilahirkan oleh  jamannya.

Era kapitalisme-materialisme,  membuat manusia menjadi semakin  teralienasi (terasing), sehingga banyak  manusia menempuh dan  memanfaatkan segala cara  dan sarana untuk  mengokohkan eksistensi  dirinya. Salah satunya, eksis  lewat perkelompokan  (geng) yang salah satu  ekspresinya adalah tawuran. Driser, bicara  tentang brutalisme di  kalangan anak muda, maka  posisi remaja bisa sebagai  pelaku sekaligus korban.  Sebagai pelaku, karena geliat  jiwa muda mereka seringkali  memancing ekspresi yang  berlebihan dalam menunjukkan  kekecewaannya.


Tak sedikit remaja yang  harus berurusan dengan aparat dan  nginep di hotel prodeo akibat tindakan  kriminalitasnya yang memakan korban.  Namun disisi lain, remaja juga  sebagai korban. Korban dari pengaruh  lingkungan yang amburadul. Dibalik gaya  hidup kapitalis sekuler khas masyarakat  Barat yang menyelimuti kita, ternyata  menyimpan bom waktu yang  menggerogoti mental dan keimanan  remaja muslim. Walhasil, brutalisme  hanya penggalan dari rangkaian potret  buram remaja yang dihasilkan kehidupan  sekuler kapitalis. Selama lingkungannya  masih tetap, ya kelakuan remaja tak akan  berubah. Saatnya beralih pada kehidupan  Islam dalam naungan khilafah. Karena  hanya kehidupan Islam yang mampu  menjaga, merawat, dan memaksimalkan  potensi remaja untuk meraih prestasi  gemilang di dunia dan akhirat.[] 
Diberdayakan oleh Blogger.