Header Ads

MAJALAH DRISE EDISI 20 : VIRUS GALAU KUDU DI HALAU

seorang facebooker ngasih status '' di  wall-nya. Tak lama, facebooker lain  langsung kasih comment, 'lagi galau  S yaa...!'.

Sementara di belahan dunia  maya lain, salah satu tweeple mendadak  nge-tweet puisi yang mendayu-dayu di  statusnya. Tak lama, berondongan respon  masuk yang mempertanyakan  kegalauannya.  Hare gene, penghuni dunia maya  lagi keranjingan virus galau. Lagi sedih  diputusin pacar, dibilang galau. Lagi marah  ngeliat pacar selingkuh dua lingkuh,  dibilang galau. Lagi gak dapet perhatian  dari pujaan hati, diledekin galau.

Apalagi  social media udah jadi corong ekspresi  kawula muda. Walhasil, curcol alias curhat  colongan yang memenuhi dinding facebook  atau memadati kicauan tweeter tak bisa  dibendung. Status galau pun merajalela.  Nggak tahu deh pastinya sejak  kapan kosakata 'galau' marak di dunia  maya. Tapi yang jelas, 'Galau' sepertinya  sudah menjadi keluhan wajib facebookers  dan tweeple. Dan mungkin karena  terlampau seringnya, akhirnya jadi trend.  

Padahal sebenarnya pengertian kata 'Galau'  itu mengarah ke sikap negatif. Sayangnya,  ketika menjadi semacam trend, banyak  remaja yang merasa bangga melabeli  dirinya generasi 'Galau' tanpa cari tahu  artinya. Persis, sebelumnya ketika ada  istilah 'Alay', 'Lebay', 'Funky', maka istilah  yang berkonotasi negatif itu, malah jadi  sebuah kebanggaan. Hemm...bener juga  kale ya, kata para dalang itu kalo bumi ini  sudah gonjang-ganjing alias kebolak-balik. Driser, istilah galau menurut  beberapa referensi yang ada, menunjukkan  ke persepsi negatif.


Coba perhatikan definisi  galau menurut KBBI, yaitu di halaman 407  Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV  (2008), “galau” berarti kacau (tentang  pikiran); “bergalau” berarti (salah satu  artinya) kacau tidak karuan (pikiran); dan  “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal)  galau. Di dalam Google Translate dan buku  Kamus Indonesia-Inggris John M. Echols  dan Hasan Shadily, bahasa Inggris galau  adalah hubbub dan confusion.

Artinya,  galau lebih dekat dengan suasana pikiran  yang tengah bingung. Menurut situs arti-kata.com, ber·ga·lau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan  (pikiran). Nah, apapun arti atau definisi galau,  yang pasti kita dengan mudah mendeteksi  kehadiran para galauers di dunia maya. Ciri-cirinya adalah self sentris alias doyan  mengeluh atau ngomongin dirinya sendiri  atau getol mengumbar masalah pribadinya  ke publik atau rajin update banyak status  dalam waktu singkat atau aktif curcol di  waktu-waktu Indonesia bagian galau yang  katanya sekitar jam 22 malem sampe jam  04 pagi. Apakah driser termasuk salah  satunya?

Hayooo ngaku aja!! Galau Adalah Produk Sekularisme Orang merasa bingung (confuse)  adalah sebuah kewajaran, suatu hal yang  manusiawi. Sama seperti rasa takut-berani,  bahagia-sedih, dll. Akan tetapi menjadi  tidak manusiawi, ketika kebingungan itu  menjadi wabah penyakit epidemi, bahkan  jadi semacam karakter yang melekat pada  seseorang. Apalagi ketika menghadapi  suatu masalah, dia selalu dilema atau  bingung. Itu menunjukkan bahwa memang  orang yang bingung tersebut tidak punya  prinsip hidup yang jelas dalam menghadapi  persoalan.

Klop, seperti yang dialami  kebanyakan remaja saat ini. Coba liat, saat  ngadepin ujian sekolah, daripada pusing,  banyak pelajar yang ambil jalan pintas.  Mereka memilih untuk bikin contekan,  kerjasama saat ujian, atau cari bocoran  soal. Dalam menapaki karir atau pekerjaan,  maunya yang cepat dan banyak  menghasilkan uang. Pilhannya jatuh ke  dunia selebriti dengan terlebih dahulu ikut  audisi. Kalo lagi ngumpul bareng sohib,  nggak mau ketinggalan tren. Kalo temannya  aktivis pacaran, tanpa pikir panjang  langsung cari gebetan.

Kebayang dong kalo  orang gak punya prinsip hidup yang jelas,  apa aja dijabanin ngikutin hawa nafsunya.  Pertimbangan moral atau akhlak udah gak  mempan. Bahkan aturan Islam pun  dilabrak. Jadi gelap mata bin lupa daratan.  Ini menunjukkan bahwa remaja kita adalah  generasi galauers. Ironisnya, virus galau juga menular  ke orang dewasa. Bahkan menjadi penyakit  galau massal menjangkiti masyarakat kita.  

Kebingungan masyarakat dalam memberi  standar salah-benar atau baik-buruk dalam  mensikapi kondisi lingkungan menunjukkan  dengan pasti kalo masyarakat sedang galau.  Sehingga ketika media memberitakan  tentang terorisme yang dikaitkan dengan  aktivis gerakan Islam, maka dengan  mudahnya masyarakat melakukan  generalisasi. Setiap yang berjenggot, celana  cingkrang, pakai jubah, atau bercadar  dianggap teroris. Ngasal deh! Kegalauan pribadi maupun  masyarakat nggak akan mewabah kalo  lingkungan sekitar kita pake aturan hidup  Islam sebagai prinsip hidup dalam menilai  baik-buruk dan salah benarnya perbuatan.  

Yang ada sekarang justru lingkungan  disterilkan dari aturan hidup Islam. Dengan  kata lain, memisahkan pembahasan  problem kehidupan dengan Islam, alias sekularisme. Islam hanya  dibatasi di pojok-pojok mushola, itupun diambil yang ada  kaitannya dengan ibadah ritual saja atau dalam urusan nikah,  talak, cerai, rujuk, waris. Diambil yang kira-kira menyenangkan,  dipakai ketika sedang suntuk dan diamalkan kalo bisa  menenangkan hati.  

Padahal Islam itu sejatinya adalah way of life (jalan hidup).  Islam adalah dien yang mengatur segala urusan, mulai dari  bangun tidur sampai urusan mendengkur, mulai dari urusan  sepele sampai yang bertele-tele, mulai dari urusan bangun rumah  sampai bangun negara. Semuanya diatur dalam Islam.  Komplit..plit..plit! Jangan Ada Galau Diantara Kita Driser, rasa galau itu ngetemnya dalam hati dan pikiran,  tentu saja kalau disepelekan akan berakibat buruk.

Akibat lanjutan  bagi orang yang sedang galau (bingung, confuse) adalah futur  (down), lupa diri, lupa daratan, sampe lupa makan yang  selanjutnya bisa bikin pengidapnya kehilangan arah dan tujuan  hidup. Kaya orang linglung gitu.  Ketika seseorang bingung cari jalan keluar dari masalah  yang tengah dihadapi, itu tandanya doi belum punya prinsip  (idealisme) hidup yang yahud. Padahal idealisme hidup yang lahir  dari cara pandang (mindset) dia terhadap kehidupan itu penting  banget buat panduan menyelesaikan setiap masalahnya. Seorang  remaja yang punya prinsip hidup dagadu: muda foya-foya, tua  kaya raya, mati masuk surga, bisa jadi masa mudanya banyak  dipake untuk mengejar kesenangan dunia yang tak ada habisnya.  

Idealisme itu ibarat darah yang senantiasa mengalir dalam  tubuh kita. Bicara idealisme, adalah bicara tentang hidup dan  mati, tentang harga diri, tentang sikap, dan tentang tujuan dan  target kita dalam hidup ini. Bayangin aja, kalo orang sama sekali  nggak punya idealisme, hidupnya bakal penuh kegalauan. Ibarat  orang bepergian tapi nggak tahu tujuannya harus pergi ke mana.  Dijamin bekal, waktu, tenaga, dan pikirannya bakal habis gak  karuan. Idealisme itu ibarat "nyawa" dalam kehidupan kita. Bisa  kita bayangkan sendiri, bahwa ketika kita nggak punya tujuan yang  hendak dicapai, rasanya garing banget hidup ini.  

Dengan memiliki idealisme, tujuan hidup kita jadi terarah,  memiliki target yang jelas, dan pasti punya dorongan kuat dalam  mewujudkan segala  impian mulia yang jadi tujuan hidupnya. Dan itu  berarti menuntut sebuah perjuangan dan pengorbanan. Rintangan  seberat apapun akan dianggap sebagai sebuah tantangan yang kudu  ditaklukkan. Maju terus pantang kabooor! Cegah Galau Dengan Dakwah Nggak bisa dipungkiri kalo masyarakat kita tengah terjangkit  virus galau. Cengkeraman aturan kapitalis sekuler yang dipake negara  makin menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam. Masyarakat digiring  untuk menjadikan untung –rugi dari sisi materi sebagai tolok ukur  dalam menilai perbuatan. Standar halal dan haram dianggap udah  kadaluarsa. Ujung-ujungnya, masyarakat makin galau kalo udah  disodorin aturan Islam untuk ngatur hidupnya  biar sejahtera.  Masihkah kita cuekin kondisi ini? Ooooh....tentu tidaaak!

 Sebagai muslim, udah seharusnya kita  peduli dengan urusan kaum Muslimin. Kalo kita santai-santai aja alias  cuek bebek terhadap kondisi di atas, maka patut dipertanyakan  keislaman kita. Rasul ngingetin kita dalam sabdanya: “Barang siapa  yang bangun pagi hari, ia hanya memperhatikan masalah dunianya,  maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang  siapa yang  tidak pernah memperhatikan  urusan kaum muslimin  yang lain,  maka mereka  tidak termasuk golonganku” (HR Thabrani  dari Abu Dzar Al Ghifari).  

So,  setelah kita care, peduli akan nasib kaum muslimin, yang  kita lakukan berikutnya adalah memberikan edukasi (pembinaan) ke  masyarakat termasuk individunya. Pembinaan pribadi seperti  Rasulullah Saw membina para sahabat-sahabatnya di Darul Arqam.  Sedangkan pembinaan masyarakat dengan menyebarkan opini, baik  lisan maupun tulisan, baik dalam jumlah banyak atau sedikit. Opini  yang mengupas tuntas tentang Islam sebagai jalan hidup, Islam  sebagai problem solving, Islam sebagai idealisme hidup, serta  menghancurkan segala opini yang bertentangan dengan Islam. Ayuk  kita gabung dengan barisan para pengemban dakwah biar virus galau  segera kita halau. Wataw![LBR]

TIPS ANTI GALAU
kata orang bijak “Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”, ya  memang idealnya begitu. Berikut tips praktis kalau si galau sudah  menyerang kita:

1. Sadarkan diri bahwa kita ini akan diuji oleh Allah dengan masalah yang  datang kepada kita, sebagai ujian 'cinta' alias keimanan kita kepada  Allah. So, stay cool, calm, and confident!
2. Sertakan sikap sabar dan syukur, ketika masalah itu datang, karena  masalah itu  akan mendewasakan kita. Nikmatin  aja sambil cari  solusinya.
3. Kalo merasa memang harus curhat, carilah tempat curhat yang tepat,  jangan membiasakan diri curcol di arena publik macam facebook atau  twitter.  Cobalah  cari  teman,  atau  datangi  tempat  yang  bisa  'menasehati' kita, karena temannya orang yang sedang galau adalah  kesendiriannya, dia merasa sendiri dalam menghadapi hidup.  
4. Selalu tanamkan positif thinking. Pertama, positif thinking pada Allah  SWT, karena Allah sesuai dengan persangkaan/mindset hambanya.  Kedua, positif thinking pada diri sendiri,  karena seorang muslim yang  baik adalah yang “bermanfaat” bagi orang di sekitarnya.  

5. Segera cari sarana atau wahana yang bisa membuat kita memiliki  idealisme  Islam,  yakni tempat-tempat  kajian Islam,  setelah itu  istiqomahlah di dalamnya. So, bakarlah semangatmu untuk belajar  sekarang juga, jangan ditunda! (LBR) 
Diberdayakan oleh Blogger.