Header Ads

ROMAN HATIN EPISODE 07 (TAMAT)

Sultan Shalahuddin menempatkan pasukan panah yang  bersiaga di atas bukit-bukit kecil untuk menghujani Pasukan  Salib dengan panah. Pasukan utama di tengah, dipimpin  S langsung oleh Sultan sendiri, terdiri dari kavaleri dan infanteri.  Pasukan sayap kiri dipimpin Al-Afdal. Aku dan Phillipe di dalam  pasukan sayap kanan, dan aku menjadi komandannya. Siang makin terik di padang rumput itu dan pasti akan  semakin menyiksa Pasukan Salib.

Sementara kami telah mengisi  penuh kantung-kantung air kami. Ketika hari sudah sampai di  tengah-tengahnya, kami lihat pasukan kafir itu datang. Ketika  mereka sudah memasuki jarak tembak, Sultan memerintahkan  pasukan panah untuk menembak. Aku melihat ribuan anak panah  berjatuhan ke arah pasukan kafir itu seperti air hujan jatuh ke bumi.  Kamilah yang menjadi awan hitam dari hujan panah kematian itu.  Pasukan salib itu berlindung di belakang tameng-tameng mereka.  Mereka berjatuhan tertusuk panah. Ada yang di mata, leher, kepala,  dan bagian tubuh mereka yang lain. Pasukan panah kafir balas  menembak kami.

Kami pun berlindung di balik perisai. Mereka  makin dekat. Sultan Shalahuddin mengangkat bendera hitam berukir  kalimat syahadat itu dan berteriak, “Innallaha ma'ana…….Allaaaahu  Akbarrr”. Sultan mengacungkan pedangnya dan gema takbir dari  seluruh prajurit menggelegar memenuhi angkasa menggentarkan  Pasukan Salib. Takbir, di mana-mana takbir. Aku percaya ribuan  malaikat telah turun dari langit membantu pasukan muslim, dan  orang-orang yg ingkar itu akan segera kami kalahkan. Pasukan yang dipimpin Al-Afdal maju lebih dahulu

“Hari ini pasukan kafir akan musnah…Allaaaahu Akbarrr.”,  pekik Al-Afdal.
Pasukannya maju menyerbu pasukan kafir  dari sisi kiri. Perang pecahlah sudah.! Pasukanku masih tetap bertahan di posisinya,  menunggu perintah dari Sultan. Aku melihat jumlah  Pasukan Salib begitu banyak dan tidak sebanding dengan  jumlah pasukan muslim. Mereka mengusung panji-panji  salib, dan membawa sebuah tiang salib yang sangat  besar, serta memakai pakaian perang berlambang salib  merah. Pasukan muslim tak gentar dan terus maju  menyerang. “Pasukan muslim sungguh perkasa!”, Tiba-tiba  Phillipe bicara. Aku tersenyum mendengar kata-katanya.  “Aku sudah lama merasakannya. Bahkan sebelum aku  menjadi muslim, aku selalu bertanya-tanya mengapa  pasukan muslim begitu berani. Dan sekarang aku sudah  tahu jawabannya.”.

 “Kau bagian dari pasukan muslim sekarang. Aku  melihat kau pun bertempur dengan gagah berani!”,  kataku. “Aku belum pernah sama sekali merasakan seperti  apa yang aku rasakan sekarang.”, katanya. “Menjadi  muslim sungguh bahagia. Aku merasakan keberanian di  dalam jiwaku, lebih dari saat aku menjadi Kristen. Sebab  aku tahu aku berperang untuk sesuatu yang lebih tinggi,  lebih mulia. Sebab aku tahu apa yang aku bela adalah  benar.”. Tiba-tiba aku melihat air muka Phillipe berubah.  Dia terlihat seperti orang terkejut dan keheranan karena  memandang sesuatu yang menakjubkan. Sedetik  kemudian dia tersenyum. Matanya tertuju kepada satu  titik. Jarinya menunjuk kepada sesuatu. “Kau lihat itu,  Ahmad?”, katanya. “Itulah Kerajaan Sorga.”.

Aku keheranan. Aku mengikuti ke mana arah  pandangan dan telunjuknya. Yang aku lihat hanya  kecamuk pertempuran dan darah, serta karang tanduk  Hattin yang mencuat angkuh di tengah-tengahnya.  “Taman-tamannya sungguh indah.”. “Itu dia!”, katanya. Aku makin tidak mengerti apa  yang dibicarakan Phillipe. “Selalu saja perempuan itu!  Selalu saja dia! Lihatlah ke sana, Ahmad! Lihatlah!”. Aku tidak berkata apa2. Aku benar2 tidak  mengerti. Phillipe bersemangat me-nunjuk2 sesuatu yang  tidak jelas. “Mari Ahmad, kita ke sana! Ayolah kita ke sana  bersamaku!! Aku ingin segera ke sana!”, Phillipe  memaksaku untuk segera maju, dia me-narik2 tali kekang  kudaku.  “Lihatlah, pintunya penuh cahaya. Akhirnya aku  temukan Kerajaan Sorga”.
 “Sebentar, Phillipe!”, aku menahannya,  kugenggam tangannya. “Sultan belum memerintahkan  kita maju. Sebentar!!”. “Ayolah! Aku tidak sabar lagi. Aku ingin ke sana!”,  Phillipe mencengkeram tanganku, namun matanya tak  mau lepas dari satu titik yang dia lihat. “Maafkan aku, Ahmad! Aku duluan!”, Phillipe  memacu kudanya dan melarikannya dengan cepat  meninggalkanku. dia menyongsong musuh sendirian. “Philliiiiiipe!!!”, aku berteriak memanggilnya.

Dia  tidak mendengarku. Dia masuk ke dalam kabut kecamuk  perang yang membubung ke angkasa. Aku tidak bisa  melihatnya lagi. Tak lama kemudian kami melihat pasukan musuh  sudah terdesak ke padang rumput Hattin. Karang tanduk  Hattin berdiri tidak peduli. Pasukan yang ditempatkan di sana  sebelumnya telah mengepung dan mulai menghancurkan  mereka. Sultan mengangkat bendera hitamnya dan aku  pekikkan, “Allaaaaahu Akbar….”. Kami maju bersama-sama  menuruni bukit dan menyerbu padang rumput yang basah  oleh darah itu. Kupimpin pasukanku memukul mundur  pasukan kafir. Kuayunkan pedangku menghantam tentara  musuh, sebagai hukuman bagi mereka sebab telah membuat  kerusakan di muka bumi.

Aku menusukkan pedangku ke  tubuh-tubuh kotor mereka, dan aku penggal leher-leher  sombong mereka. Tuhan yang esa akan memberi kami  kemenangan!! Aku merangsek maju, makin rapat pada tanduk  Hattin. Aku mencari Phillipe di tengah-tengah pertempuran  itu. Samar-samar aku melihat Phillipe sedang bertarung  dengan Amalric, adik Raja kafir Jerussalem, persis di sisi  tanduk Hattin yang jauh di depan, dan masih menjadi area  yang dikuasai musuh. Dia berhasil menusukkan pedangnya  ke jantung Amalric dan robohlah dia bersimbah darah.

Pekik  takbir membahana, dan aku lihat Reynald de Chatillon  menebasnya dari belakang hingga melukai punggungnya.  Lantas Reynald de Chatillon menendangnya sampai jatuh.  Tenggelamlah dia dalam kecamuk. Aku tak bisa melihatnya  lagi. Aku meraungkan takbir, aku maju menerjang ke  tengah-tengah musuh. Menghancurkan dan membunuh  mereka semua untuk menaati perintah Tuhan. Akan aku kejar  Reynald de Chatillon, si pembantai kafir itu. Sayang  langkahku tertahan oleh rapatnya peperangan. Kuayunkan  pedangku menusuk dan memenggal. Seorang Prajurit salib  melukai tanganku, tapi aku tak merasakannya.

Aku cabik  perutnya dan aku tendang kepalanya, darahnya berurai. Sultan Shalahuddin bertarung dengan perkasa. Dia  benar-benar murka kepada orang-orang kafir yang selalu  membantai kaum muslim. Perang terus berkecamuk. Guy de  Lusignant membuat barikade pertahanan di dekat tanduk  Hattin. Pasukan muslim mengepung mereka semalaman,  membuat mereka kehausan dan kelaparan dalam barisan  barikade mereka sendiri. Kucari-cari lagi Phillipe di sekitar  Tanduk Hattin, tapi tak kutemukan. Aku tidak mengerti ke  mana dia pergi, padahal aku lihat dia jatuh di sekitar situ.  Hingga fajar menyingsing kami berhasil menghancurkan  pasukan kafir sehancur-hancurnya. Sungguh sebuah  kemenangan yang luar biasa. 

Pagi itu, begitu perang reda, aku terus mencari  Phillipe. Akhirnya aku temukan dia duduk bersandar di salah  satu sisi Tanduk Hattin. Wajahnya tertunduk kepada bumi.  Bibirnya tersenyum, sebab Tuhan telah meluluskan cita-citanya, memasuki Kerajaan Sorga yang selalu dia nyanyikan  selama ini. Dia telah syahid! Aku berlutut di sisinya. Di tangan  kirinya dia genggam Alquran bersampul putih pemberianku  yang saat itu telah berubah merah karena bersimbah  darahnya. Tangan kanannya memegang pedang dengan  kokoh sampai akhir. Aku berlutut di sisinya, menunduk  hormat dengan takzim menjunjung tinggi seorang mujahid  mulia. Betapa Tuhan menyayangimu, saudaraku. Bisik  hatiku. Kemarin malam dia baru saja masuk Islam, hari ini dia  kutemukan telah syahid sebagai seorang pahlawan Islam.  Aku cium kedua pipinya, kupeluk erat dia buat yang terakhir  kali. Aku simpan Alquran dan darahnya yang suci. Air mata  sudah tidak bisa aku tahan lagi.


Sultan Shalahuddin menepuk pundakku. Dia berdiri di  belakangku. “Betapa bahagianya Phillipe!”, katanya. Sultan  berlutut di sisinya. Dipeluknya Phillipe, dan diciumnya kedua  pipinya. Segera kuhapus air mataku. Aku mengubur  jenazahnya yang berbalut kemuliaan darah dan baju  perangnya di bawah bayang2 matahari pagi di Tanduk Hattin.  Aku berdoa di pusaranya! Aku berdoa kepada Tuhan, aku  harap Dia memberi aku kehidupan dan kematian yang indah  seperti dia.  Dengan tangannya sendiri, Sultan Shalahuddin  memenggal leher Reynald de Chatillon, sebagai balasan atas  kebiadaban yang sudah dia lakukan. Kemenangan ini menjadi  kemenangan besar bagi kaum muslim, sebab tak beberapa  lama kemudian Tanah Suci Jerussalem berhasil kami  taklukkan. Kami berhasil mengembalikan kesucian kota itu  dengan cahaya dan kesempurnaan Islam. Dan hari itu aku  saksikan, segala janji telah ditepati….[] 
Diberdayakan oleh Blogger.