Header Ads

FUTUH RUUM EPS 07

“Ketahuilah sesuatu, Tuan Perdana Menteri, ditaklukkannya tahta Vatikan dan kota Roma sudah dijanjikan Rasul kami ribuan tahun yang lalu. Silakan anda duduk manis dan memerhatikan apa yang akan terjadi nanti. Jika anda memasang badan untuk menghalangi kami mewujudkan janji Rasul kami itu, saya akan mengerahkan tentara Islam untuk menghancurkan anda. Silakan anda camkan itu, sebab saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya.” Khalifah Muhammad Hasanuddin menatap Berlusconi dengan tajam.




“ANDA MENGANCAM SAYA!!!” Berlusconi membelalak pada Khalifah. Telunjuknya sudah teracung lagi kepada Khalifah.



“BERLUSCONI! SAYA BILANG DIAM!!!” Biji mata Napolitano seolah akan melompat keluar dari tempurung kepalanya. Dia terlonjak dari kursinya dan berkacak pinggang di hadapan Berlusconi. “Bukan siapa-siapa yang merendahkan Italia, tapi sikap dan kata-kata andalah yang merendahkan negara kita. SEKARANG ANDA KELUAR DARI SINI.”



Tak ada seorang pun yang menyangka apa yang akan terjadi hari itu, pertemuan tingkat tinggi antara dua negara itu menjadi ajang percekcokan yang sengit. Khalifah diam saja, wajahnya datar dan tangannya dilipatnya di depan dadanya. Dia duduk tegak menatap presiden dan perdana menteri Italia itu saling berhadap-hadapan.



Berlusconi bangkit dari kursinya dan menatap mata Napolitano dalam-dalam. “Seperti yang saya katakan tadi, Tuan Presiden, sikap saya ini demi masa depan negara kita dan juga demi agama kita. Orang ini berbahaya, begitu juga setiap manuvernya, karena itu kita harus selalu mewaspadainya. Kalau kita bersikap lembek kepadanya, nanti kita sendiri yang akan dihancurkannya seperti apa yang dia katakan tadi. Jelas-jelas dia mengatakan bahwa dia akan menyerang tahta suci Vatikan untuk memenuhi janji Rasulnya, apakah kita masih meragukan semua itu? Bukankah semua itu mestinya membuat kita bersikap yang seharusnya?”



Khalifah tiba-tiba ikut berdiri, dia menatap Napolitano dan Berlusconi bergantian. Dengan gagah dia bicara.



“Baiklah kalau begitu. Dengan semua pembicaraan kali ini aku memutuskan untuk menghentikan semua perjanjian dan kerjasama antara Khilafah Islamiyah dengan Italia, karena memang kondisi yang ada sudah tidak memungkinkan lagi untuk kedua negara menjalin hubungan,” Khalifah mengembuskan napasnya. “Aku ingin menekankan satu hal sekali lagi. Takluknya Roma adalah janji Rasul dan Tuhan kami. Tidak akan pernah ada satu orang pun yang bisa menghentikannya. Jika ada pihak-pihak yang mencoba menghalanginya, maka mereka akan hancur dengan kuasa yang dimiliki Tuhan kami. Silakan pertahankan apa yang jadi pandangan anda, silakan pertahankan juga semua sikap anda, Roma akan tetap takluk untuk Islam. Dan jika waktunya telah tiba, anda tidak perlu khawatir, Islam tidaklah sama dengan agama-agama dan ideologi-ideologi yang lain. Dalam penaklukan, kami dilarang membantai. Tentu anda ingat apa yang telah dilakukan orang-orang Kristen ketika menaklukan Jerusalem? Pembantaian, hingga darah menggenang sampai mata kaki. Jika anda mau, silakan anda halangi penaklukan itu. Tandanya anda menghancurkan diri anda sendiri. Demikian, saya mohon undur diri.”



Khalifah melangkahkan kakinya menuju ambang pintu Istana Quirinal. Dia pergi begitu saja, tanpa menoleh lagi kepada para pejabat tinggi Italia itu. Sementara Napolitano dan Berlusconi terhenyak. Tapi tiba-tiba Napolitano terlonjak, dia segera berjalan cepat mengejar langkah Khalifah.



“Tuan Khalifah, tunggu sebentar. Tuan, mohon tunggu sebentar.”



Karena ingin menghargai Napolitano, Khalifah menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap Napolitano. Kedua pemimpin negara besar itu bertemu muka kembali.



“Tolong maafkan semua yang sudah terjadi. Bukan maksud kami tidak menghormati anda. Saya sendiri tidak menyangka Berlusconi akan bersikap seperti tadi. Saya mohon maaf sebesar-besarnya.”



“Setidaknya perdana menteri telah mengeluarkan semua isi hatinya.”



“Mohon maafkan saya, Tuan Khalifah, sebenarnya saya agak segan menanyakan hal ini, tapi apakah benar negara Khilafah akan menaklukan Roma dan menduduki Vatikan?”



“Seperti yang sudah saya katakan dari tadi, hal itu adalah janji Tuhan dan Rasul kami. Silakan anda perhatikan apa yang akan terjadi nanti. Terima kasih banyak, Tuan Presiden, ada banyak hal yang masih harus saya selesaikan. Saya pamit.”



Khalifah berbalik dan pergi. Tinggallah Napolitano dengan lutut yang gemetar dan dada bergemuruh. Alis Berlusconi berkerut menatap punggung Khalifah.



000

Basilika Santo Petrus di kota Vatikan dilumuri sinar redup dari lilin yang panjang. Gereja besar yang dibangun selama lebih dari seratus tahun itu kokoh dan luar biasa. Dan Khalifah Muhammad Hasanuddin yang disertai Jenderal Sayf Ali Khan telah berdiri tegak di sana, di hadapan altarnya yang megah. Di dekat altar itu, Paus Benediktus XIII telah mengahadapkan wajahnya kepada Khalifah. Pemimpin spiritual Kristen sedunia itu ditemani oleh pembantu pribadinya, Uskup Ferdinand. Dua puluh orang pasukan Garda Swiss mengawal pertemuan itu.



“Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa menerima Khalifah di tempat yang kudus ini,” Paus menyambut. Tubuhnya yang sudah lemah, bungkuk, dan ringkih begitu memprihatinkan. Uskup Ferdinand setia di sisi Paus. Suaranya agak gemetar, seakan ada rasa takut di dalamnya. “Apakah ada hal yang bisa saya bantu?”



Khalifah berdiri tegak, begitu juga Jenderal Ali Khan. Mata mereka berdua terarah pada wajah keriput Paus.



“Sebuah kehormatan pula bagi kami,” kata Khalifah. “Kedatangan kami kemari adalah untuk menawarkan sesuatu yang amat berharga kepada anda. Saya percaya anda belum pernah mendapatkan tawaran seperti ini, dan mungkin seluruh paus pun belum pernah mendapatkannya.”



“Tawaran apakah itu, Khalifah? Sebenarnya bukan hanya tawaran itu, tapi hadirnya anda di sini pun telah mengejutkan dunia Kristen. Belum pernah terjadi sepanjang sejarah dunia ini ada seorang muslim yang berdiri di hadapan tahta suci Vatikan kemudian menawarkan sesuatu.”



“Allah-lah yang Maha berkehendak. Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dialah yang telah memudahkan kami untuk bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan seorang pun itu,” sahut Khalifah.



Tangan kisut Paus menjadi gemetar. Tongkat emas yang digenggamnya turut gemetar. “Apakah yang ingin anda sampaikan?”



Terbit senyum tipis di hadapan Khalifah. “Saya ingin mengajak anda, masuklah anda ke dalam Islam, maka anda akan selamat di dunia dan akhirat. Marilah kita gunakan akal dan intelektualitas kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, kemudian membuka hati kita untuk menerima kebenaran itu dengan ikhlas dan tunduk kepadanya. Marilah masuk ke dalam Islam.”



Lutut Paus semakin gemetar hingga dia hampir-hampir tidak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri. Uskup Ferdinand segera mengambilkan kursi, dan Paus segera didudukkan di sana.



“Ajakan anda adalah sebuah ajakan yang amat besar,” kata Paus, hampir-hampir suaranya terjebak di tenggorokannya. “Ini adalah sebuah ajakan yang amat berat, dan juga ada konsekuensi yang amat berat di dalamnya. Apakah anda menyadari semua itu?”



“Saya sangat sadar dengan semua kata yang keluar dari mulut saya,” kata Khalifah. “Dan saya harap seruan saya tersebut bisa dipahami maknanya.”



“Saya menyadari ajakan ini, hanya saja akan terjadi hal yang amat besar jika saya memenuhi ajakan anda.”



“Apakah dengan demikian anda menolaknya?”



Paus mengembuskan napasnya dan mengangguk pelan. “Saya tidak bisa menerima tawaran anda ini.”



“Baiklah, jika demikian saya akan menawarkan hal lain. Anda dipersilakan untuk tetap memeluk agama anda, dan tetap menjadi pemimpin spiritual agama Kristen, namun serahkan kekuasaan kota ini kepada kami. Seluruh harta, darah, nyawa, seluruh gereja, dan kebebasan anda serta seluruh umat Kristen untuk menjalankan agama anda akan kami jamin, dengan kompensasi anda membayar jizyah setiap tahun. Kesejahteraan anda pun akan kami jamin.”



“Maaf, Khalifah, semua ini adalah tawaran yang sangat berat bagi saya. Tidakkah anda mengerti perasaan saya tentang betapa beratnya hati saya mendapatkan tawaran seperti ini? Saya dicekam kebingungan dan ketakutan setiap hari menunggu detik-detik hingga tiba pada hari ini. Saya tidak bisa menerima tawaran anda, dan tahukah anda, dengan apa yang ada lakukan pada hari ini, semua ini bisa memicu perang salib yang baru, atau bahkan perang dunia ketiga yang mengerikan?”



“Terima kasih banyak saya ucapkan atas semua perhatian dan kekhawatiran anda. Hanya saja silakan anda perhatikan semua tawaran saya ini. Semua yang anda khawatirkan tadi biarlah kami yang memikirkannya.” Suara Khalifah tetap tenang dan berwibawa.



Paus menggeleng pelan. Uskup Ferdinand ikut gemetar mendengar semua seruan Khalifah. Dia berpikir, jika dia ada di posisi Paus, pasti dia sudah kebingungan hendak menjawab apa.


“Maaf, saya tidak bisa.”

Sambil mengembuskan napas kecewa, Paus memutuskan.

Ada senyum tipis terkembang di wajah Khalifah. Dia pun akan mengambil keputusan.



000


Diberdayakan oleh Blogger.